Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

Usaha Lobster di NTB Bisa Sejahterakan Masyarakat. Asal….

Usaha lobster di NTB. Foto: Net

Sumbawa (Samudranesia) – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang memiliki dua pulau besar yakni Sumbawa dan Lombok terkandung sumber daya perikanan lobster karang, bambu, pasir dan mutiara bernilai tinggi, berorientasi ekspor.

Ketua Asosiasi Nelayan Lobster Indonesia (ANLI) Rusdianto Samawa berharap agar potensi yang berlimpah itu tidak disia-siakan oleh pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupeten/kota.

“Spesies lobster dari perairan di kedua pulau di NTB, yakni Pulau Sumbawa dan Lombok adalah lobster jenis Mutiara dan Pasir. Kedua jenis ini sangat bernilai ekonomi tinggi,” kata Rusdianto kepada Samudranesia, Jumat (15/5).

Sehingga, menurutnya dampak ekonomi yang akan menaikkan finansial rate bagi masyarakat pesisir NTB melalui skema industri budidaya lobster dan ekspor benih bening lobster sangat cocok. Keberadaan stok sumber benih (Sink Population) di NTB diprediksi tahun 2020 sebanyak 700 juta benih yang berasal dari sekitar ratusan ribu induk lobster.

Rusdianto menyebut bila analisis ekonomi lobster melibatkan ekosistem dan memperbaiki regulasi, interaksi antara masalah ekonomi dan lingkungan akan mudah teratasi karena berbagai aktivitas ekonomi berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap lingkungan.

“Konsep yang memadukan saling keterkaitan antara aktivitas ekonomi dan lingkungan semakin banyak diterima dan diakui apalagi bila aktivitas ekonomi bersumber dari ekosistem yang sangat kompleks dan rentan. Misalnya seperti usaha lobster,” jelasnya.

 

Sambung dia, saat ini NTB belum maksimal pada pemanfaatan teknologi, waktu budidaya, pemanfaatan pakan, dan untuk pembentukan regulasi yang mengatur hal tersebut. Sehingga daya saing budidaya masih sangat rendah.

“Pakan buatan belum berkembang, masih berbasis pakan rucah yang musiman, mutu tidak standar dan pathogen carrier,” bebernya.

Ia pun meminta Pemerintah Provinsi NTB untuk bisa mendorong dan mengintervensi paket kebijakan agar memaksimalkan partisipasi masyarakat pada pemanfaatan, penangkap benih bening, dan pembudidayaan benih lobster.

Starting point-nya yakni pemantapan strategi dan kerjasama investasi lobster dan benih lobster lewat Badan Usaha Milik Daerah atau Desa,” tegas dia.

Apalagi, lanjutnya, kalau hitungan tata niaga lobster dari beberapa cabang usaha lobster, misalnya: hasil penjualan domestik dan ekspor lobster dari kelompok pembudidaya yang diperkirakan mencapai Rp500 miliar perbulan, maka PAD NTB akan bertambah besar.

“Tentu sangat luar biasa perkembangannya ke depan dan tentu membutuhkan kecerdasan BUMD mengelola potensi ini,” imbuhnya.

Masih kata Rusdianto, kedepan, Pemprov NTB bisa melakukan intervensi terhadap pengembangan teknologi, kerjasama hatcery, penyewaan tempat budidaya, penyiapan industri pakan dan lainnya. Sehingga aspek itu masuk pada skema penguatan supporting pemasukan anggaran belanja daerah.

Sementara sisi lain, Pemprov NTB juga bisa pengembangan penangkaran (budidaya) dengan tahapan perbanyak lokasi hatchery: berbasis penangkapan (stok benih bening) misalnya di Teluk Saleh, Pulau Sumbawa. Mulai dari pendederan benih bening, pemeliharaan, penetasan telur, pemijahan dan pematangan Induk.

Maka dari itu, Rusdianto menjelaskan pentingnya, kelompok atau organisasi penangkap yang ditentukan rekomendasi oleh Komisi Nasional Pengkajian Sumberdaya Ikan (Komnaskajiskan) secara nasional dan Dirjen Budidaya dengan syarat-syarat sesuai aturan hukum yang berlaku.

“Tentu, output dari penentuan organisasi penangkap, eksportir dan pembudidaya ini bertujuan untuk menjaga keberlangsungan ekonomi sekaligus memperbaiki lingkungan apabila terjadi kerusakan. Maka yang paling bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan dan over fishing adalah organisasi yang terdaftar,” bebernya lagi.

Sehingga proses pengelolaan dan pembudidayaan lobster secara berkelanjutan dapat menghasilkan pada dua hal yakni: 1) kelestarian stok, 2) kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, ia mendorong Pemprov NTB untuk lakukan penelitian lebih mendalam tentang pendugaan stok sebagai input produksi pendederan.

“Lagi pula, perlu percontohan integrated lobster industry sejak pemilihan lokasi di Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok, manajemen benih, manajemen pemberian pakan, manajemen kualitas air, manajamen kesehatan lobster, sampling, manajemen panen hingga pengangkutan lobster hidup dan pemasaran,” imbuh dia.

Sekarang, nelayan sudah diperbolehkan menangkap benih lobster untuk dibudidayakan. NTB akan menetapkan zonasi budidaya lobster di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa yang dibantu dari sisi anggaran untuk membuat dokumen zonasi lokasi spesifik untuk budidaya lobster, di Teluk Jukung Telong Elong, Teluk Ekas, Teluk, Labuhan Bontong, Labangka, Labuhan Pidang, Penobo, Sili, Maci, Mata dan Sape.

“Syarat lokasi budidaya lobster dikembangkan harus mencapai luas 1.700 hektare yang dibagi di beberapa tempat lokasi, utamanya di lokasi persediaan stok. Dalam satu hektare, bisa sampai 50 keramba. Dalam satu keramba, lobster yang dihasilkan bisa sampai 70 kg. Maka, optimis NTB bisa ekspor 70-90 ton per bulan pada bulan keenam setelah masa budidaya,” pungkasnya.

 

Article Link: http://samudranesia.id/usaha-lobster-ntb-siap-datangkan-kesejehteraan-buat-masyarakat/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published