Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

Stigma Indonesia sebagai Penghasil Sampah Nomor Dua di Laut harus Dicabut!

Ilustrasi

Jakarta (Samudranesia) – Status Indonesia sebagai negara penghasil sampa plastik nomor dua ke laut harus dicabut. Hal itu disampaikan oleh Founder Waste Management Sosial Enterprise berbasis Bank Sampah sekaligus Sekretaris Jendral Asosiasi Bank Sampah Indonesia (ASOBSI) Wilda Yanti saat menjadi pembicara dalam Global Forum on Environment – Mainstreaming Gender and Empowering Women For Environmental Sustainability di Paris, 5-6 Maret 2020.

Wilda Yanti yang menjadi pembicara dan mengisi sesi ke 5 dengan tema Gender-Specific comsumtion patterns, behavioural insight, and Circular Economy, 6 Maret 2019, menyampaikan tentang Bank Sampah dan Peran Bank Sampah membangun Sistem Pengelolaan Sampah di Indonesia.

Wilda mendesak agar dunia international mencabut klaim bahwa Indonesia penyumbang sampah ke laut nomor dua terbesar di dunia, dengan menyampaikan fakta-fakta bahwa Indonesia bukan produsen plastik terbesar.

“Indonesia terus berbenah untuk penanganan sampah menuju solusi masif, mengajak dunia internasional datang ke Indonesia untuk melihat keindahan alam Indonesia,” kata Wilda.

Menurutnya, Bank Sampah dengan empat kekuatan dasar yakni Edukasi, Kepedulian Lingkungan, Kepedulian Sosial dan Pergerakan Ekonomi, semakin menggerakan solusi pengelolaan sampah di Indonesia yang sekarang menuju masif.

“Dengan kekuatan dasar itu telah tumbuh dan berkembang lebih 8.036 Bank Sampah di Seluruh Indonesia yang 80 persen diantaranya digerakan oleh Penggerak Wanita dan sisanya oleh Penggerak Laki-laki,” ungkapnya.

“Kekuatan Bank Sampah menggerakkan terciptanya teknologi-teknologi pengelolaan sampah. Wanita tidak hanya sebagai pemakai teknologi tetapi juga bisa menciptakan teknolongi-teknologi ramah lingkungan yang bermanfaat bagi solusi Sampah Indonesia,” ungkapnya lagi.

Penggerak Bank sampah juga bergerak menuju pengembangan energi baru terbarukan, seperti sampah organik menjadi biogas dan listrik berbasis masyarakat, yang semuanya juga digerakkan oleh banyak perempuan Indonesia.

Pemerintah Indonesia bersama dengan kelompok masyarakat penggiat pengelolaan sampah terus melakukan sosialisasi baik di forum-forum nasional maupun inernasional. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam hal meningkatkan partispasi publik tersebut telah mengutus dua pegiat sampah ke Forum Internasional.

Selain Wilda ada juga Ananto Isworo, Founder Gerakan Shadaqoh Sampah juga diundang hadir pada forum tersebut. Forum yang diselenggarakan OECD (Organisation For Economic Cooperation and Development) ini juga diikuti oleh perwakilan dari beberapa negara.

Dalam forum itu, Menteri LHK Siti Nurbaya mengatakan, ada dua aspek utama dalam penanganan lingkungan di Indonesia, yakni kebijakan pemerintah dan partisipasi publik. Karena eksternalitas kegiatan atau implementasi lingkungan berada dan langsung dirasakan masyarakat, persoalan lingkungan khususnya sampah solusinya juga berada di tengah masyarakat.

“Jadi ini merupakan urusan bersama, dan peran berimbang dari semua unsur Bangsa menjadi sangat penting. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih untuk aktualisasi semua itu. Kita harus selesaikan masalah bangsa kita ini dengan sebaik-baiknya,” kata Siti.

Di kesempatan yang sama, Ananto Isworo, Founder Gerakan Shadaqah Sampah (GSS) Kampung Brajan Tamantirto, Bantul, juga berbagi tentang kegiatan Shadaqoh sampah dan gerakan Eco Masjid. Bagaimana sampah bisa digunakan untuk santunan pendidikan, santunan sembako dan santunan kesehatan bagi masyarakat miskin dan anak-anak yatim piatu. Dengan jumlah relawan 40 orang dan 10 di antaranya adalah wanita.

“Kekuatan perempuan untuk menggerakan edukasi pengelolaan sampah sangat besar, peran perempuan sebagai pendidik utama untuk lingkungan berkelanjutan sangat penting,” kata Ananto. Program Bank Sampah, Shadaqoh Sampah dan Gerakan Eco Masjid mendapat sambutan dari berbagai negara, termasuk delegasi Saudi Arabia.

Tindak lanjut pertemuan yang dihadiri para ahli dari berbagai negara ini, termasuk delegasi Indonesia yang dipimpin SAM Bidang Industri dan Perdagangan Internasional KLHK, akan menjadi rekomendasi bagi pelestarian lingkungan di seluruh dunia dengan melibatkan berbagai komponen lintas gender, lintas usia, lintas agama dan lintas negara. (Tyo)

 

Article Link : http://samudranesia.id/stigma-indonesia-sebagai-penghasil-sampah-nomor-dua-ke-laut-harus-dicabut/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published