Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

Seskoal, Lahir dari Gelombang Revolusi untuk Menuju Negara Maritim

Jakarta (Samudranesia) – Di tengah kemelut Operasi Trikora (Tri Komando Rakyat) dalam rangka pembebasan Irian Barat, TNI Angkatan Laut (dulu ALRI) terus mengembangkan organisasi dan kemampuannya dalam rangka menuju negara maritim.

Sejak Deklarasi Djuanda dikumandangkan pada 13 Desember 1957, arah pemerintahan negara yang dinakhodai oleh Pemimpin Besar Revolusi (PBR) Bung Karno tertuju pada cita-cita membangun negara maritim. Dalam Musyawarah Maritim I & II 23 September 1963, Bung Karno menegaskan mengenai arah pembangunan menuju bangsa maritim. Berikut petikan pidatonya dikutip dari Arsip Departemen Penerangan RI tahun 1963:

“Kita ini dahulu benar-benar bangsa pelaut. Bahkan bangsa kita ini sebenarnya tersebar melintasi lautan dari satu pokok asal.

Tersebar melintasi lautan, mendiami pulau-pulau antara pulau Madagaskar dan pulau Paskah dekat Amerika Selatan. Melewati beribu-ribu mil, melewati samudera, bahar, yang amat luas sekali.

Di situlah bersemayam sebenarnya bangsa Indonesia…itu adalah satu gugusan bangsa bangsa yang boleh dikatakan sama bahasanya, sama adat istiadatnya, sama pokok-pokok isi spirituil.

Jauh sebelum Bung Karno pidato itu, tepatnya pada 10 September 1945, kaum bahariwan Indonesia yang merupakan kumpulan pelaut hasil didikan Belanda dan Jepang, menginisiasi berdirinya Badan Keamanan Rakyat (BKR) Laut. Tanggal ini kemudian yang ditetapkan sebagai hari jadi TNI AL.

Organisasi ini terus bertransformasi dari masa ke masa hingga memasuki awal dekade 1960-an. Di bawah kepemimpinan Laksamana Madya RE Martadinata, TNI AL mendapat tugas dari Bung Karno untuk menjadi tulang punggung pembangunan maritim Indonesia.

Bung Karno, Proklamator kemerdekaan yang memiliki visi maritim

Murid HOS Tjokroaminoto itu benar-benar menginginkan TNI AL yang unggul, kuat dan disegani oleh negara lain. Sehingga keberadaanya dapat diandalkan untuk pertahanan negara di laut sekaligus dalam mewujudkan negara maritim Indonesia.

Maka dari itu sudah seharusnya TNI AL memiliki suatu satuan kerja yang berfungsi sebagai Pusat Pengkajian baik untuk TNI AL maupun untuk pembangunan maritim bangsa secara umum. Selain itu pembangunan pusat pendidikan ini juga ditujukan untuk mencetak calon-calon pemimpin TNI AL yang berkualitas untuk mampu menghadapi tantangan ke depan.

Sehingga ide tersebut terangkum dalam setingkat dengan Sekolah Staf dan Komando (Sesko) guna mempersiapkan para Perwira Menengah (Pamen) TNI AL sebagai pimpinan di masa mendatang yang dibekali dengan kemampuan dan pengetahuan yang mumpuni.

Tindak lanjut dari usulan tersebut, pada tanggal 26 November 1962 berdasarkan Surat Keputusan Menteri/KSAL Laksamana Madya TNI RE Martadinata pada tanggal 26 November 1962 Nomor: 5401.52 tentang pembentukan Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Laut (Seskoal). Sebagai Presiden Seskoal yang pertama ditunjuk Komodor Laut OB Syaaf.

Komodor Laut OB Syaaf sendiri merupakan jebolan Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT) Semarang, sekolah pelaut untuk pribumi binaan Kaigun (Angkatan Laut Jepang). OB Syaaf termasuk pendiri BKR Laut dan sudah malang melintang dengan berbagai penugasan di TNI AL sehingga dianggap layak “mengemong” para Pamen TNI AL yang menimba ilmu di Seskoal

Sejak berdirinya sampai sekarang, Seskoal menempati suatu kompleks di Cipulir, Jakarta Selatan dengan lingkungan yang asri sehingga kampus ini sangat representatif untuk kegiatan belajar-mengajar.

Tidak sampai setahun Seskoal, berdiri pemerintah Indonesia kala itu langsung menggelar Musyawarah Maritim I di daerah Tugu Tani, Jakarta pada 23 September 1963. Bisa jadi, fungsi Seskoal sebagai pusat pengkajian maritim telah berjalan dan merumuskan konsep dari cita-cita besar menuju negara maritim di balik pelaksanaan musyawarah tersebut.

Hasil musyawarah itu salah satunya menobatkan Bung Karno sebagai Nakhoda Agung NKRI yang memimpin pencapaian terwujudnya negara maritim. Kemudian ada beberapa rekomendasi yang dihasilkan terkait bidang-bidang kemaritiman seperti industri pelayaran dan perkapalan, perikanan serta pertahanan maritim.     

Pembangunan nasional di masa itu oleh Bung Karno dimaknakan sebagai revolusi yang belum selesai. Di mana tujuannya adalah cita-cita nasional sesuai amanat Pembukaan UUD 1945 dan negara meritim menjadi alat untuk menuju kepada cita-cita proklamasi.

Hingga saat ini, Seskoal merupakan Badan Pelaksana Pusat TNI AL yang berkedudukan langsung di bawah Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) dengan unsur pimpinan seorang Komandan Seskoal (Danseskoal) dan Wakil Komandan Seskoal (Wadan Seskoal) yang mengemban tugas pokok.

Di antaranya Pertama, melaksanakan pendidikan pengembangan umum tertinggi Perwira TNI Angkatan Laut agar mampu mengembangkan tugas-tugas komando dan staf tingkat Angkatan Tugas di lingkungan TNI Angkatan Laut. Kedua, melaksanakan pengkajian masalah kejuangan dan masalah strategi pertahanan matra laut.

Visi Seskoal sendiri adalah menjadi pusat yang cemerlang dalam pendidikan pertahanan matra laut dan Seskoal harus menjadi pusat yang cemerlang dalam pengkajian masalah keamanan laut dan strategi. Sementara misi Seskoal adalah menyelenggarakan pendidikan pengembangan umum tertinggi di lingkungan TNI AL dan menyelenggarakan pengkajian masalah kejuangan dan strategi pertahanan negara matra laut.

Dengan demikian, tujuan pendidikan Seskoal adalah mendidik, membekali dan memantapkan Pamen TNI/TNI AL yang berjiwa prajurit pejuang Sapta Marga, memiliki kesamaptaan jasmani serta profesionalisme matra laut, sehingga dapat menerima tugas-tugas komando dan staf Angkatan Tugas dan Brigade Marinir serta tugas-tugas staf umum pada tingkat Markas Besar TNI, Markas Besar TNI Angkatan Laut dan Komando Gabungan TNI.

Sasaran pendidikan Seskoal meliputi mengamalkan sikap dan perilaku prajurit pejuang Sapta Marga dalam setiap kegiatan sesuai tugasnya; memelihara kesemaptaan jasmani sesuai standar pembinaan jasmani TNI; mampu memahami strategi pertahanan negara matra laut; mampu merencanakan pembangunan kekuatan pertahanan negara matra laut; mampu mengaplikasikan penggunaan kekuatan matra laut; mampu mengembangkan kemampuan sebagai teknokrat matra laut; mampu memahami sistem politik nasional secara kritis dan menyeluruh serta dapat mengembangkan kemampuan untuk mengalisa masalah nasioanal dan daerah yang timbul dalam pembangunan nasional.

Kegiatan di Seskoal

Khususnya di bidang matra laut dan maritim yang memiliki pengetahuan tentang kebijaksanaan pembangunan dan administrasi. Lulusan Seskoal juga dapat membantu pelaksanaannya dengan tertib, tidak menyimpang dari peraturan-peraturan yang berlaku serta mempu membantu peran pengawasan dalam upaya meningkatkan hasil pembangunan.

Sering berjalannya waktu, keorganisasian Seskoal pun semakin berkembang. Namun tujuan yang diembannya tidak pernah berubah yakni turut mewujudkan negara maritim lewat pengkajian. Atas dasar itu, Pusat Kajian Maritim (Pusjianmar) Seskoal didirikan pada 2013 guna melakukan pengkajian maritim yang lebih luas bersama para stakeholder maritim.

Di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan visinya Poros Maritim Dunia, sejatinya Seskoal memiliki peranan penting dalam pencapaiannya. Visi luhur yang notabene meneruskan api perjuangan Bung Karno dalam menuju negara maritim, di mana tujuan Seskoal didirikan salah satunya untuk menopang tujuan tersebut. (Tyo)

 

Article Link : http://samudranesia.id/seskoal-lahir-dari-gelombang-revolusi-untuk-menuju-negara-maritim/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published