Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

Seperti Apa Pemulihan Ekonomi Nasional di Sektor Kemaritiman?

Ilustrasi pelayaran di Indonesia

Jakarta (Samudranesia) – Pemerintah tengah mengajukan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di sektor kemaritiman. Hal itu dilakukan guna mengatasi ancaman resesi ekonomi di tengah pandemi Covid-19 ini.

Program yang diluncurkan dalam konteks PEN ini di antaranya di sektor pertambangan, kelautan, perikanan, transportasi laut, dan pariwisata serta pembangunan ekonomi kreatif berbasis UMKM (Usaha Mikro dan Kecil Menengah). Hal itu ditegaskan oleh Menteri Koordinator (Menko) bidang Kemaritiman dan Investasi (Marves) Luhut B. Pandjaitan saat menghadiri sarasehan virtual 100 ekonom yang diadakan oleh Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Selasa (15/9).

Dalam kesempatan tersebut, Menko Luhut menyampaikan mengenai pentingnya hilirisasi yang menciptakan nilai tambah dalam transformasi ekonomi Indonesia.

“Hilirisasi ini punya peran penting karena memberi nilai tambah yang sangat bagus, mulai dari pajak, pendidikan, hingga potensi UMKM. Kita kan tidak mau terus-terusan mengandalkan komoditas,” ujar Luhut.

Ia menambahkan, sektor hilirisasi mineral juga berkontribusi dalam menopang perekonomian Indonesia selama pandemi dan diyakini ketika nanti pandemi usai. Hal ini dikarenakan sektor hilirisasi tidak terdampak terlalu dalam dan ekspor produk turunan yang dihasilkan dari pabrik pengolahan semakin menunjukkan dampak positif.

“Hilirisasi nikel ini akan kita kembangkan sampai ujungnya baterai lithium dan mobil listrik. Di tahun 2024 kita harap sudah produksi lithium battery tipe terbaru yaitu 811, dan ada recycling programm juga untuk baterai itu,” jelasnya.

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut B Pandjaitan.

Kebijakan hilirisasi dengan pembangunan kawasan industri di beberapa wilayah juga telah turut meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah melalui potensi UMKM di sekitar kawasan industri tersebut.

“Orang sekarang ingin Green Product. Indonesia akan menjadi pemain penting dalam peta industri mobil listrik dunia. Ini juga termasuk komitmen Indonesia untuk mencapai Paris Agreement pada 2030. Nantinya di Eropa juga tidak akan membolehkan lagi combustion car,” jelasnya lagi.

Purnawirawan TNI AD ini juga mencontohkan, selama periode 2014-2019, ekspor besi dan baja di luar kendaraan telah meningkat dari angka 1,1 miliar dollar AS menjadi 7,4 miliar dollar AS. Pengolahan bijih nikel ke stainless steel slab juga memberikan nilai tambah secara signifikan. Dari 612 juta dollar AS menjadi 6,24 miliar dollar AS, atau meningkat 10 kali lipat.

Pemerintah juga terus mendorong hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah dari gasifikasi batubara. Beberapa waktu lalu telah ditandatangani perjanjian kerja sama proyek industri Coal to Methanol (CTM) di Batuta Industrial Chemical Park di Bengalon, Kutai Timur dengan nilai sebesar 2 miliar dollar AS.

“Sekarang juga kita sangat fokus menyiapkan langkah untuk mengembangkan proyek energi terbarukan untuk mendukung pengembangan industri hijau, karena potensi kita juga ternyata sangat besar di sini. Jadi saya mau katakan, tidak ada alasan untuk kita tidak optimis bahwa negara ini akan menjadi negara besar,” tegas Luhut.

Selain itu, Kemenko Marves juga menginisiasi program Padat Karya melalui Restorasi Terumbu Karang di Pantai Sanur, Serangan, Nusa Dua, Pantai Pendawa hingga perairan Buleleng, Bali. Hal ini guna membantu masyarakat pesisir di Bali dalam upaya mitigasi menghadapi dampak pandemi Covid-19 khususnya di sektor kelautan dan wisata bahari.

 “Program PEN merupakan salah satu rangkaian kegiatan untuk mengurangi dampak Covid-19 terhadap perekonomian. Untuk perairan Nusa Dua ini merupakan salah satu target lokasi program PEN kami, karena masuk dalam satu dari lima titik restorasi terumbu karang yang akan dilakukan di Bali dan  tempat untuk Indonesia Coral Reef Garden (ICRG) yang di luncurkan pada saat IMF-WB Annual Meeting 2018 yang lalu. Program ini nantinya dilaksanakan oleh Kemenko Marves bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP),” kata Kepala Bidang (Kabid) Pengelola Konservasi Perairan dan Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil Kemenko Marves Andreas A Hutahaean, Rabu (16/9).

Andreas menjelaskan, untuk saat ini Bali sendiri merupakan satu-satunya daerah yang diajukan mendapatkan dana PEN untuk restorasi terumbu karang, dengan total pengajuan dana PEN itu sendiri sebesar Rp 115 miliar (dana masih dalam penggodokan Kementerian Keuangan (Kemenkeu)). Program padat karya ini akan menyerap tenaga kerja 10.000-11.000 orang.

“Selain itu, dipilihnya Bali karena merupakan tujuan wisata bahari dengan keindahan bawah lautnya yang banyak diburu wisatawan. Bali juga merupakan tumpuan ekonomi masyarakat dan pemerintah daerahnya. Sehingga di tengah melemahnya pertumbuhan ekonomi di Bali, pemerintah pusat hadir dengan memberikan trigger untuk memutar ekonomi dari bawah,” paparnya.

Restorasi terumbu karang

Diketahui ada 5 daerah yang menjadi lokasi implementasi program PEN di Bali, yakni Pantai Pandawa, Pantai Nusa Dua, Pantai Sanur, Pantai Serangan, dan Buleleng. Program PEN diharapkan dapat terealisasi pada awal Oktober mendatang ini nantinya disalurkan melalui program padat karya.

Program PEN merupakan salah satu rangkaian kegiatan untuk mengurangi dampak Covid-19 terhadap perekonomian. Selain penanganan krisis kesehatan, Pemerintah juga menjalankan program PEN sebagai respon atas penurunan aktivitas masyarakat yang berdampak pada ekonomi, khususnya sektor informal atau UMKM.

Di sektor perikanan budidaya, pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga terus menggenjot produktivas komoditi-komoditi ekspor. Tujuannya agar aktivitas perikanan budidaya juga mampu menyerap lapangan kerja.

Salah satu komoditas yang menjadi andalan KKP salah satunya ialah udang. Oleh karena itu, banyak program bantuan diarahkan untuk memperkuat sektor budidaya ini.

“Tentu saja kami KKP membuat program untuk udang sebagai fokus dalam peningkatan produksi dan ekspor,  karena nilainya sangat strategis. Kita punya lahan yang luas, SDM banyak, kenapa tidak, sehingga kita lanjutkan lagi (budidaya udang), tapi modelnya lain. Kalau dulu kita berikan sarana dan prasarana, sekarag kita membuat model-model percontohan untuk meningkatkan target ekspor 250 persen,” ungkap Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto kepada Samudranesia di Jakarta, (27/6) lalu.


Tambak Udang di Mamuju Utara.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Koordinator Penasihat Menteri Kelautan dan Perikanan, Prof Rokhmin Dahuri. Menurutnya budidaya udang bisa meningkatkan perekonomian bangsa di tengah pandemi ini.

“Jika budidaya udang dimanfaatkan dengan maksimal dan di kelola dengan profesional, maka bukan tidak mungkin sektor ini akan menyelamatkan dari resesi,” ucap Rokhmin saat menyaksikan panen udang di Cianjur selatan beberapa waktu lalu.

Angkutan Laut untuk Rakyat

Aspek konektivitas barang dan jasa melalui sektor transportasi laut juga dilakukan oleh pemerintah untuk mewujudkan pemerataan. Hal itu untuk memulihkan ekonomi masyarakat yang berada di wilayah 3TP (Terluar, Terpencil, Terpelosok, dan Perbatasan). 

Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut terus berupaya mengentaskan kemiskinan dengan meningkatkan sarana dan prasarana di laut. Tak hanya Tol Laut, beberapa upaya yang dilakukan di sektor transportasi laut untuk mendukung konektivitas antara lain angkutan perintis dan angkutan ternak. 

Kementerian Perhubungan telah memberikan bantuan berupa subsidi bagi penyelenggaraan angkutan tol laut, perintis dan kapal ternak, baik dalam bentuk subsidi operasional, subsidi kontainer, maupun subsidi muatan.


Kapal Tol Laut singgah di salah satu pulau terpencil

Pada tahun 2020 ini direncanakan terdapat 26 (dua puluh enam) Kapal Angkutan Barang Tol Laut akan melayani 26 (dua puluh enam) trayek yang menyinggahi 100 (seratus) Pelabuhan melalui 70 (tujuh puluh) Kabupaten/Kota di 20 (dua puluh) Provinsi di Indonesia.

“Tanpa kehadiran Kapal Perintis, urat nadi perekonomian di pulau tersebut akan terganggu. Kapal Perintis dapat mengangkut hingga 500 orang dan menghubungkan kepulauan berkategori 3TP dengan pelabuhan-pelabuhan lebih besar,” kata Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Kementerian Perhubungan, Capt. Antoni Arif Priadi, Senin (14/9).

Masih Tingginya Suku Bunga

Kendati pemerintah sudah berupaya keras untuk memulihkan ekonomi nasional di tengah pandemi Covid-19 ini, namun sejumlah pelaku usaha di sektor maritim merasa masih keberatan dengan suku bunga saat ini. Hal tersebut, terutama dikeluhkan oleh industri galangan kapal dan pelayaran.

Terkait itu, ekonom Anthony Budiawan menyatakan bahwa kebijakan moneter harus bisa mendukung kebijakan fiskal agar stimulus fsikal tidak mubazir. Kebijakan moneter di saat resesi juga sangat umum, menurunkan suku bunga.


Industri galangan kapal. Dok Foto: ANTARA

“Saat resesi, likuiditas menjadi ketat. Banyak perusahaan dan nasabah perorangan gagal bayar bunga pinjaman dan cicilan utang. Membuat likuiditas sektor perbankan juga menjadi ketat. Artinya, permintaan likuiditas meningkat. Di sisi lain, supply likuiditas turun. Kondisi ini membuat suku bunga cenderung naik. Kalau didiamkan, konsumsi masyarakat akan turun tajam, pertumbuhan ekonomi semakin memburuk,” kata Anthony kepada Samudranesia, Rabu (16/9).

Oleh karena itu, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) ini berandangan dalam kebijakan moneter saat resesi harus meningkatkan supply likuiditas secara signifikan.

“Agar suku bunga turun, BI harus menurunkan suku bunga acuan (BI-rate) serendah-rendahnya, hingga mendekati 1 hingga 0 persen. Kalau diperlukan, BI bisa menambah likuiditas melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, khususnya membeli SBN yang dipegang oleh bank untuk menyuntik likuiditas ke sektor perbankan agar kredit bisa normal kembali,” terangnya.

Ia menambahkan jika suku bunga rendah membuat konsumsi masyarakat meningkat dan menggairahkan ekonomi. Suku bunga rendah juga akan memberi destimulus menabung.

“Konsumen akan lebih memilih belanja, dengan memanfaatkan suku bunga rendah untuk membeli durable goods: motor, mobil, properti, serta barang rumah tangga lainnya. Suku bunga rendah juga membantu biaya kredit (cost of borrowing) menjadi lebih murah, sehingga dapat membantu perusahaan bertahan hidup.

Kemudian, masih kata dia, stimulus moneter suku bunga rendah sejalan dengan stimulus fiskal defisit anggaran. Keduanya akan mendongkrak ekonomi lebih efektif dari dua sisi bersamaan.

“Fiskal meningkatkan konsumsi pemerintah, moneter meningkatkan konsumsi masyarakat,” pungkasnya. (Tyo)

 

 

Article Link: http://samudranesia.id/seperti-apa-pemulihan-ekonomi-nasional-di-sektor-kemaritiman/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published