Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

“Selamatkan KPI” Jadi Harga Mati Perjuangan Pelaut dalam Momentum Seafarer’s Day 2020

Foto: Pemberian potongan tumpeng dari Penasehat Pelaut KPI Binsar Effendi kepada Capt. Dwiyono Soeyono dalam peringatan Seaferer’s Day 2020.

Jakarta (Samudranesia) – Sekitar lebih kurang 40 pelaut Indonesia dari berbagai kalangan hadir dalam peringatan Hari Pelaut Sedunia 2020 (Seafarer’s Day) di daerah Bilangan, Jakarta, pada hari ini 25 Juni 2020.

Mereka antara lain para pelaut yang sudah purnalayar serta yang masih aktif berlayar, baik yang berstatus perwira maupun rating, baik pelaut bekerja di kapal-kapal asing maupun di kapal-kapal niaga nasional, seluruhnya membaur dalam suasana kebatinan yang sama.

Mereka bertemu dan berkumpul dengan khidmat dalam bingkai senasib dan sepenanggungan jika berada di atas kapal, dalam ikatan filosofi ‘brotherhoods’ yang kuat. Para pelaut ini juga mengemban misi perjuangan untuk menyelamatkan organisasi Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) sebagai komitmen bersama sampai tercapainya keberhasilan.

 “Ini untuk memenuhi tuntutan regenerasi bahwa menyelamatkan KPI adalah harga mati. Itu untuk melindungi kepentingan pelaut Indonesia yang merupakan suatu keniscayaan,” ujar moderator acara peringatan yang juga jurubicara Pelaut KPI, Teddy Syamsuri, di Jakarta, Kamis (25/6).

Ia menyambut positif kehadiran para sahabat pelaut, termasuk pelaut wanita. Sebab dalam acara itu yang dibuat secara spontan dalam waktu singkat dan dananya sebatas kemampuan yang ada, mendapat respons yang tinggi dari para pelaut yang hadir.

Diawali dengan menyanyikan Indonesia Raya dan mengheningkan cipta, lalu pembukaan oleh sambutan Koordinator Eksekutif Pelaut KPI Tonny Pangaribuan didampingi Koordinator Lapangan Pelaut KPI Hasoloan Siregar atau Solo. Kata sambutan itu disampaikan oleh Penasehat Pelaut KPI Binsar Effendi Hutabarat.

Setelah itu dibuka satu sesi untuk Ketua Ikatan Komunikasi Perwira Pelayaran Niaga Indonesia (IKPPNI) Capt. Dwiyono Soeyono, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Maritim (STIMAR) Capt. Baginda, dan Sekjen SPI (Solidaritas Pelaut Indonesia) Capt. Farhan Kambey.

Capt. Dwiyono menyoroti kasus peredaran sertifikat pelaut palsu yang begitu sulitnya dihentikan dan kini telah diserahkan sepenuhnya kepada pihak yang berwenang.

“Bukan diseminarkan via webinar yang sifatnya akademis, itu tidak tepat. Bicara pemalsuan atau maling yah mestinya eksklusif, bukan diseminarkan. Sangat disayangkan tempat kuliahnya dalam rangka peringatan Hari Pelaut Sedunia, menyeminarkan urusan sertifikat palsu yang bukan domain ilmiah melainkan ranah hukum dan pihak kepolisianlah yang berwenang untuk menyeminarkan,” ujar Capt Dwiyono.

Sementara, Capt. Baginda sangat berharap ego sektoral pendidikan ilmu pelayaran antara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dengan Kementerian Pendidikan Tinggi (Kemendikti) segera diselesaikan dan menjadi kebijakan yang integral.

Sedangkan Capt. F Kambey yang juga anggota Dewan Pakar Ikatan Nakhoda Niaga Indonesia (INNI) menduga sangat wajar jika perusahaan manning agent yang merekrut dan menempatkan awak kapal pelaut Indonesia di kapal-kapal asing di luar negeri dengan keharusan memiliki Surat Ijin Usaha Perekrutan dan Penempatan Awak Kapal (SIUPPAK) harus ada deposit Rp 750 juta versi Ditjen Hubla dan Rp 1,5 milyar versi BP2MI Kemenaker.

“Karena untuk taruh jaminan begitu mahal terutama untuk mendapat persetujuan saat manning agent membuat Collective Bargaining Agreement (CBA) dengan serikat pekerja sesuai Permenhub No. 84 Tahun 2013 tentang Perekrutan dan Penempatan Awak Kapal oleh Dirkapel, pelaut yang mau naik kapal banyak yang tidak lepas dari bayar cas yang nilainya jutaan rupiah juga. Sesuatu yang bukan menjadi rahasia umum inilah, yang ujungnya yang jadi korban adalah pelautnya juga,” kata Capt F Kambey.

Selesai para narasumber memberikan masukan, pembacaan doa untuk kesehatan, keselamatan dan umur panjang disampaikan oleh Ustad Drs Abdul Rosjid Makdum, SAg. Kemudian acara dilanjutkan dengan potong tumpeng yang diawali dengan pemberian potongan tumpeng dari Penasehat Pelaut KPI Binsar Effendi kepada Capt. Dwiyono serta seorang pelaut wanita. Dan dari Koordinator Eksekutif Pelaut KPI Tonny Pangaribuan ke Capt. Baginda dan Koordinator Lapangan Pelaut KPI Solo ke Capt. F Kambey.

Acara sederhana dan khidmat dalam memperingati Hari Pelaut Sedunia 2020 pun selesai dengan raut wajah penuh semangat dan harapan besar pada peringatan tahun depan tidak layu sebelum berkembang, seperti layunya visi Poros Maritim Dunia yang belum bisa dirasakan hasilnya. (Tyo)

 

Article Link: http://samudranesia.id/selamatkan-kpi-jadi-harga-mati-perjuangan-pelaut-dalam-momentum-seafarers-day-2020/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published