Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

Sektor Kelautan dan Perikanan Sulit Terdongkrak di Tengah Wabah Covid-19

Pembudidaya kakap bersiap untuk panen. Foto: Net

Jakarta (Samudranesia) – Wabah Covid-19 yang kini menjadi isu strategis dunia telah menghambat proses pembangunan, termasuk tersendatnya sektor kelautan dan perikanan di berbagai negara. Indonesia termasuk menjadi negara yang sangat berdampak sektor kelautan dan perikanannya akibat wabah ini.

Kendati pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sudah berjuang seoptimal mungkin untuk mendongkrak sektor ini untuk tetap tumbuh dan berkembang, namun dirasa tetap sulit mengingat sektor ini juga berkaitan dengan sektor lainnya, missal konektivitas logistik.

“Harapan konektivitas logistik dan maritim di tengah Covid-19 dan pelemahan ekonomi global ini sedikit muram sehingga daya saing ekonomi kelautan dan perikanan tidak terjaga. Kondisi ekonomi nasional pun terjun pada level 4 persen kebawah. Sangat sulit, kembangkan sektor kelautan dan perikanan di tengah wabah ini. Butuh waktu lama penataannya,” kata Ketua Front Nelayan Indonesia (FNI0 Rusdianto Samawa dalam keterangannya, Jumat (17/4).

Hal itu diperolehnya berdasarkan pengamatan kehidupan nelayan dan pembudidaya ikan serta rumbut laut di daerah Sulawesi Selatan. Mereka menjerit akibat sulitnya mengirim hasil perikanan mereka ke luar daerah. Hal itu pun juga dialami oleh para eksportir lobster yang sulit mengirim lobsternya ke China dan Hongkong.

Rusdianto menyebut di tengah Covid-19 ini, ribuan pulau Indonesia berhenti berproduksi dengan total kerugian ekonominya khusus pada sektor kelautan-perikanan sebesar 1,2 triliun dolar AS/tahun atau 1,2 persen dari PDB Nasional saat ini. Sementara, potensi kerugian produksi perikanan 49 juta ton tahun.

“Apalagi, prediksi kerugian dari total produksi perikanan dunia tahun 2020 sejumlah 182 juta ton. Serapan lapangan kerja sebanyak 50 juta orang (40 persen) dari total angkatan kerja Indonesia juga terancam. Potensi dan target produksi hasil perikanan ini sangat lemah untuk dicapai karena biaya produksi sangat besar dibanding pendapatannya,” jelasnya.

Begitu juga, sambungnya, jumlah utilitas industri pengolahan ikan saat wabah Covid-19 ini masih berada di bawah 50 persen yang tidak dapat lagi didongkrak peningkatan ketersediaan bahan bakunya.

Ditambah, kesulitan karena faktor pemberlakuan peraturan pemerintah mengenai Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) sehingga berdampak pada aktivitas perusahaan, kapasitas produksi dan utilisasi industri tidak dapat dimaksimalkan yang mengakibatkan suplai bahan baku tersendat.

“Sangat sulit untuk mendorong naiknya utilitas industri pengolahan ikan karena BI (Bank Sentral Indonesia) memiliki sejumlah kebijakan untuk menghadapi efek covid-19. Kebijakan moneter telah diambil mulai akhir Februari,” ungkapnya.

Bagi KKP dalam membantu menumbuhkan perekonomian nasional salah satunya dengan memberi stimulus kepada sektor rumah tangga nelayan, pekerja industri, dan penjaminan pangan agar kegiatan ekonomi masyarakatdi sektor kelautan dan perikanan tetap berjalan selama bencana Covid-19.

Rusdianto sangat mengapresiasi langkah-langkah paket stimulus tersebut. Dengan mendata estimasi produksi perikanan tangkap dan perikanan budidaya selama April-Juni 2020, kemudian kesiapan infrastruktur cold storage yang tersebar di Indonesia.

“Lalu dengan penguatan terhadap hasil-hasil produksi perikanan, penjaminan pangan melalui Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan akses pemasaran dan sarana media penjualan ikan secara online, merupakan langkah yang baik untuk mendongkrak perekonomian lewat sektor kelautan dan perikanan,” ungkapnya lagi.

Selain itu, ia berharap pemerintah maupun BUMN melakukan pembelian ikan hasil tangkapan nelayan dan pembudidaya serta produk-produk UKM yang tidak terserap pasar. Memastikan bahan baku industri tetap berjalan agar produksi berlanjut. Harus memberikan penyangga sosial ekonomi bagi nelayan sebagai produsen atau pencari rajungan bagi penghidupan ekonomi keluarga nelayan.

“Hal ini bertujuan untuk membantu keberlanjutan usaha di masa pandemi Covid-19. Penting, bagi nelayan agar tetap kembali melaut sehingga pemerintah perlu secepatnya memberi perhatian khusus pada nelayan dan pelaku usaha perikanan yang terdampak. Karena di tengah Covid-19 ini potensi turunnya pendapatan disebabkan terputusnya distribusi penjualan dan perdagangan hasil perikanan,” bebernya.

“Tentu nelayan sebagai pusat alat produksi kepada masyarakat luas, maka pemerintah perlu antisipasi sedini mungkin dan memberi realisasi paket stimulus sesuai sasaran,” pungkasnya. (Tyo)

 

Article Link : http://samudranesia.id/sektor-kelautan-dan-perikanan-sulit-terdongkrak-di-tengah-wabah-covid-19/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published