Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

SDM Maritim harus Mampu Mengubah Tantangan Menjadi Peluang

Ilustrasi Foto: Infopelaut

Jakarta (Samudranesia) – Akibat pandemi Covid-19 dan badai resesi ekonomi, hampir setiap sektor usaha terkena dampaknya. Tidak terkecuali di sektor kemaritiman dengan industri pelayaran dan logistik yang menjadi aktivitas utamanya.

Indonesia sebagai negara kepulauan yang 70 persen lebih daerahnya berupa wilayah perairan/laut memiliki jumlah SDM di sektor kemaritiman yang banyak. SDM tersebar dalam sarana transportasi (penghubung antar pulau), pariwisata, pengelolaan sumber daya alam dan pertahanan negara.

Saat ini ada lebih dari 1 juta pelaut di Indonesia sebagian diantaranya masih belum memiliki pekerjaan yang disebabkan oleh berbagai macam hal seperti akibat banyaknya pelrusahaan yang melakukan efisiensi akibat pandemi tadi serta kurangnya pengalaman, skill, dan lain sebagainya.

Terkait hal itu, Myshipgo melalui forum diskusinya, Indonesia Maritime Club hadir dalam series 18 dengan topik ‘Pemberdayaan Sumber Daya Manusia dan Peluang Karir Pelaut di Sektor Kemaritiman’, Rabu (9/9).

Hadir sebagai pembicara natara lain Kepala Badan Pengembangan SDM Kementerian Perhubungan Ir. Sugihardjo, M.Si, Direktur Perkapalan dan Kepelautan Kementerian Perhubungan Capt. Hermanta, S.H., M.M., M.Mar dan Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan DPP INSA (Indonesia National Shipowners’ Association) Capt. Zaenal Arifin Hasibuan, M.Mar serta Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto yang turut hadir memberikan sambutan.

“Sektor maritim, kelautan, dan logistik ini harus menjadi perhatian karena Indonesia negara kepulauan 17 ribu lebih pulau yang 2/3 wilayahnya terdiri dari laut. Myshipgo menggagas forum diskusi ini untuk dapat memberikan manfaat dan kontribusi berupa pemikiran, ide, terobosan, pencerahan, serta edukasi di sektor maritim, kelautan, logistik, dan juga teknologi informasi/digitalisasi. Selain itu, myshipgo berharap dapat “merangkul” para stakeholders di sektor tersebut untuk berkolaborasi dan bersinergi untuk bangkit dari situasi pandemi Covid-19 ini demi memajukan Indonesia,” ujar CEO dan Cofounder Myshipgo Harlin E. Rahardjo dalam sambutannya.

Selain ketiga narasumber tersebut, ada Capt. Cahya Fajar (Poltek Bumi Akpelni), Capt. Joko (PT Pertamina Trans Kontinental), serta Capt. Witono dan Ibu Lisda (dari INSA) yang akan berbagi pengetahuan dan  pengalaman yang memperkaya bahan diskusi.

Dalam paparannya, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Perhubungan Sugihardjo mengatakan Kementerian Perhubungan saat ini sedang mengkombinasikan antara kompetensi yang diatur oleh International Maritime Organization (IMO) dan jenjang akademiknya sehingga SDM Indonesia dapat bersaing secara internasional. 

Hal itu sesuai arahan Presiden dan Rencana Strategis Kementerian Perhubungan Tahun 2020-2024 mengenai pembangunan SDM. Pengembangan SDM berkualitas dengan melakukan seleksi penerimaan yang ketat dan transparan sesuai standar kompetensi Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers (STCW).

“Pemerintah, instansi sekolah, ataupun perguruan tinggi perlu mendukung pengembangan SDM pelayaran STCW untuk masuk ke bisnis logistik di sektor maritim dengan cakupan yang lebih luas sehingga peluang kerja juga lebih luas,” ujar Sugiharjo.

Sementaraitu, Ketum INSA Carmelita Hartoto menjelaskan masalah SDM sektor kemaritiman berupa pengurangan SDM di beberapa perusahaan akibat dampak pandemi Covid-19 dan masalah penguasaan bahasa asing terus menjadi tantangan buat pelaut Indonesia.

Carmelita juga menyoroti dampak Revolusi Industri 4.0 terhadap penggunaan SDM karena beberapa posisi sudah terotomatisasi dan diambil alih oleh mesin. Oleh karena itu, diperlukan SDM yang handal dan berintegritas tinggi yang memang tidak bisa digantikan oleh mesin.

“Saya harap bagi pelaut yang baru lulus dari sekolah pelaut jangan pesimis dulu, peluang SDM masih tidak terbatas baik di kapal-kapal asing maupun kapal nasional. Walaupun banyak pos-pos yang tergantikan oleh mesin dan saat ini juga sedang mengembangkan kapal tanpa awak tapi kita tetap perlu SDM yang terampil,” ujar Carmelita.

Sedangkan Ketua Bidang Keanggotaan dan Organisasi DPP INSA Capt. Zainal A Hasibuan menambahkan para SDM pelaut harus bisa mengubah tantangan menjadi peluang. Hal itu juga sudah ditekankan saat menempuh pendidikan di sekolah-sekolah pelaut.

‘Kalau kita menjadikan tantangan sebagai hambatan kita akan diam di tempat. Adik-adik pelaut banggalah kita menjadi icon utama dalam kegiatan di sebuah industri maritim. Walaupun negara maju memiliki teknologi yang menggantikan manusia itu masih menjadi cerita yang sangat panjang sekali,” ungkap Zainal.

“Itu masih menjadi isu bagi negara-negara yang makmur memiliki teknologi tetapi tidak memiliki pelaut. Itu seperti Norwegi, negara-negara Skandinavia tetap saya hidup selama 12 tahun dulu. Bagi mereka pelaut itu cost karena harus membiayai pelaut-pelaut dari negara-negara lain seperti kita Indonesia,” bebernya.

Ia juga menyebut bahwa Indonesia sebagai negara besar dengan jumlah penduduk yang besar ditambah dengan didominasi oleh lautan maka selamanya negara ini masih butuh pelaut. Kendati demikian, Zainal menyampaikan bahwa tidak menutup kemungkinan pelaut juga bisa merambah di bidang-bidang lain yang masih berhubungan dengan kemaritiman.

SDM Logistik

Diskusi ini juga didukung antara lain oleh Supply Chain Indonesia (SCI) yang merupakan lembaga independen dengan program pelatihan, penelitian, dan konsultasi bidang logistik.

Dalam kesempatan terpisah, Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menyatakan saat ini belum banyak SDM di bidang logistik yang bersertifikasi berdasarkan skema resmi yang telah ditetapkan pemerintah.

Oleh karena itu, SCI memelopori pelatihan dengan mengacu Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) bidang logistik, seperti pelatihan persiapan Sertifikasi Kompetensi Profesi “Supply Chain Manager” yang telah terselenggara sebanyak 20 angkatan.

“SCI juga telah mengembangkan platform digital “Ruang Logistik” yang dapat diakses pada ruanglogistik.id. Platform itu memudahkan peserta mengikuti pelatihan dan sertifikasi secara daring. Peserta dapat mengikutinya secara fleksibel dari tempat masing-masing, sehingga efisien dari aspek biaya dan waktu,” ungkap Setijadi.

Ruang Logistik telah menyelenggarakan e-training Supply Chain Management (SCM) dan Warehouse Management dengan mengacu terhadap SKKNI bidang logistik, sehingga pelatihan tersebut sekaligus sebagai tahap persiapan mengikuti uji sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Sambung dia, E-training SCM mengacu pada 15 SKKNI yaitu Kepmenaker No. 157/2010, No. 615/2012, No. 386/2013, No. 177/2013, No. 396/2014, No. 128/2015, No. 105/2016, No. 126/2016, No. 139/2016, No. 160/2016, No. 183/2016, No. 170/2016, No. 110/2018, No. 224/2018, dan No. 94/2019. Sementara, e-training Warehouse Management mengacu pada tiga SKKNI yaitu Kepmenker No. 128/2015, No. 123/2016, dan No. 94/2019.

“Ruang Logistik akan membuka beberapa program e-training lainnya, seperti Inventory Management, Transportation Management, Distribution Management, Fleet Maintenance, dan Container Depot Management,” pungkasnya. (Tyo)

 

 

Article Link: http://samudranesia.id/sdm-maritim-harus-mampu-mengubah-tantangan-menjadi-peluang/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published