Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

Rokhmin Dahuri: Membangun Ekonomi Kelautan harus Berbasis Ilmu Bukan Perasaan

Foto: Prof Dr Rokhmin Dahuri – Net

Jakarta (Samudranesia) – Indonesia harus menjadi raja dalam sektor ekonomi kelautan dan perikanan di dunia. Demikian pesan yang disampaikan oleh Penasihat Menteri Kelautan dan Perikanan Prof Dr Rokhmin Dahuri dalam acara Webinar Agro Maritim Academy bertajuk “Strategi Sektor Perikanan dan Kelautan Menjadi Motor Pengegrak Perekonomian Nasional di Tengah Pandemi Covid-19”, Selasa (2/6).

Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001-2004 itu ekonomi kelautan (marine economy) merupakan kegiatan yang berlangsung di wilayah pesisir, dan lautan, kegiatan ekonomi di darat (lahan atas) yang menggunakan SDA dan jasa-jasa lingkungan kelautan untuk menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan umat manusia.

“Kita negara maritim terbesar secara fisik, jadi ekonomi kelautan bukan hanya ikan, udang dan kekerangan tapi seluruh aktivitas kelautan. Kabar baiknya kita baru manfaatkan potensi kelautan itu baru sekitar 22 persen,” ujar Rokhmin.

Ia pun meminta pengelolaan potensi yang besar itu bukan hanya dengan perasaan melainkan dengan ilmu dan konsep yang benar. Rokhmin menyampaikan agar membangun ekonomi kelautan ini benar-benar dikelola dengan berbasis ilmu.

“Jadi membangun kelautan itu bukan berbasis udel, berbasis perasaan, tapi berbasis ilmu gitu. Jadi kita jangan dibodohin terus, kita harus pakai ilmu bukan dengan menggunakan narasi-narasi gombal,” tegasnya.         

Guru Besar Kelautan IPB itu menyampaikan saat ini usaha perikanan Indonesia masih didominasi oleh UMKM. Namun pengucuran kredit kepada UMKM masih sangat terbatas.

“Angka perikanan yang besar mencapai 135 juta ton, kita baru bisa mengolah 12,3 juta ton. Kita bersyukur pada Allah, ruang pengembangan bisnis itu masih besar sekali. Untuk kredit UMKM di sektor perikanan lebih para lagi, hanya 0,75 persen dari sekian sektor yang ada,” terang dia.

Untuk penyerapan tenaga kerja di sektor kelautan dan perikanan, Rokhmin membeberkan sebuah data saat ini ada 6,31 juta tenaga kerja langsung di sektor ini. Sementara tenaga kerja tidak lansung di sektor industri hulu-hilir kelautan dan perikanan sebanyak 9,2 juta orang.

“Jadi total sekitar 15,5 juta orang bekerja di sektor kelautan dan perikanan, 98 persen ini masih UMKM,” jelasnya.

Dalam momen tersebut, Rokhmin mengajak kepada seluruh komponen bangsa, utamanya jajaran Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk bekerja keras, cerdas dan ikhlas. Ia menginginkan semua bisnis di seluruh rantai pasok sektor kelautan dan perikanan berjalan.

“Kita ingin Indonesia ini nilai ekspor perikanannya terbesar kedua di dunia. Sekarang ini kita keempat belas. Terus kita harus menjadi produsen akuakultur dunia,” imbuhnya.

“Kita minimal bisa memiliki kontribusi sebesar 10 persen dari PDB. Kita jangan malas membina rakyat, jadikan rakyat sebagai pelaku utama. Untuk nelayan, pastikan nelayan sendiri yang punya kapal,” tegasnya lagi.

Rokhmin menyayangkan anggaran dari Kementerian Keuangan untuk pengolahan dan perdagangan ikan di tengah pandemi Covid-19 justru kecil hanya Rp36,7 miliar. Sementara anggaran untuk PSDKP sebesar Rp 106,48 miliar.

“Saya lihat masalah utamanya kan justru di pengolahan dan perdagangan ikan, tapi kok justru malah kecil karena ini bicara market. Itu aneh buat saya, untuk pengawasan mungkin bisa ditunda setahun atau dua tahun lagi. Jadi antara akar masalah dan solusinya gatuk gitu,” pungkas Rokhmin. (Tyo)


Article Link: http://samudranesia.id/rokhmin-dahuri-membangun-ekonomi-kelautan-harus-berbasis-ilmu-bukan-perasaan/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published