Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

Pengusutan Kematian ABK WNI di Kapal Ikan China Masih Ada Diskriminasi

Foto; Kapal ikan China. Sumber: Net

Jakarta (Samudranesia) – Diinformasikan sebelumnya melalui video yang viral beberapa hari lalu mengenai adanya ABK WNI yang dilarung di kapal ikan China, Lu Qing Yuan Yu 623 di perairan Somalia sunggung menyayat hati bangsa Indonesia.

Ketua DPD Sulawesi Utara, Pergerakan Pelaut Indonesia (PPI) Anwar Abdul Dalewa menyatakan prosesi pelarungan itu penuh kejanggalan dan diskriminasi.

“Dari video itu kita lihat ABK Indonesia yang berinisial H dilarung. Kata pihak perusahaan yang diwakili Albert, pelarungan itu sudah ada persetujuan keluarga yang dihubungi tanggal 18 Januari 2020 dan dilarung di atas tanggal 20 Januari,” ungkap Anwar dalam konferensi pers via Zoom dengan tema ‘Eksploitasi ABK Berlanjut, Tata Kelola Kusut’ yang diselenggarakan oleh berbagai civil society, Selasa (19/5).

Hal itu sesuai dengan pernyataan keluarga kepada Anwar saat dihubunginya melalui video call siang tadi. Anwar juga menyatakan laporan itu diperkuat dengan keterangan yang disampaikan oleh kuasa hukum pihak keluarga dan Albert.

Sambung Anwar, berdasarkan keterangan Suwarno ada ABK China yang juga meninggal namun jenazahnya dibawa pulang. Sementara jenazah ABK Indonesia justru dilarung di laut.

“Ini ada diskriminasi, kenapa ABK China dibawa pulang terus ABK Indonesia yang dilarung ke laut?” tegasnya.

Pengalamannya bekerja di kapal ikan, Anwar paham betul jika di kapal ikan ada ruangan pendingin yang biasa menampung ikan. Menurut dia, seharusnya jenazah bisa ditaruh di sana hingga di bawa kembali ke tanah air.

Dok: PPI

Masih kata Anwar, pelarungan jenazah di tengah laut bagi ABK memang diperbolehkan berdasarkan peraturan internasional. Namun ada persyaratan yang harus dipenuhi terlebih dahulu, seperti adanya persetujuan keluarga.

“Harusnya pihak perusahaan yang mewakili pertemuan kita dengan Kemlu kemarin bukan si Albert. Berarti Albert ini diduga sebagai agen penyalur yang harus ditindak,” ucapnya.

Sementara itu, pembicara lainnya, Ketua Umum Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Hariyanto Suwarno, juga menyatakan pengusutan kasus ini penuh dengan diskriminasi.

“Kenapa ABK WNI yang dilarung di laut, ini menciderai martabat bangsa. Pemerintah jangan diam. Saya yakin arwah almarhum Herdiyanto tidak tenang di alam sana kalau masih ada diskriminasi dalam pengusutan kasus ini,” ungkap Hari.

Ia juga meyakini ada tindak perbudakan dan penyiksaan yang dialami oleh almarhum Herdiyanto sebelum meninggal. Sehingga menurutnya, kasus ini harus menjadi isu HAM yang dibawa ke Dewan HAM PBB.

“Ini menjadi isu yang harus dibawa ke Dewan HAM PBB. Penegakan hukum harus diterapkan secara adil,” tandasnya.

Bertindak sebagai moderator dalam diskusi itu ialah Juru Kampanye Laut Greenpeace Southeast Asia, Arifsyah Nasution. Konferensi pers ini diiukuti oleh perwakilan dari PPI, SBMI dan Serikat Pekerja Perikanan Indonsia (SPPI). (Tyo)

 

Article Link: http://samudranesia.id/pengusutan-kematian-abk-wni-di-kapal-ikan-china-masih-ada-diskriminasi/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published