Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

Pelaut Terdampak Pandemi Belum Mendapat Perhatian Pemerintah

Ilustrasi

Jakarta (Samudranesia) – Dampak Covid-19 telah meluluhkan sendi-sendi perekonomian bangsa. Banyak pekerja Indonesia, baik yang di dalam maupun luar negeri menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau pemotongan gaji.

Hal itu termasuk dirasakan oleh para pelaut ndonesia atau orang yang bekerja di atas kapal. Bahkan dalam waktu sekira sebulan terakhir ini, pemberitaan kita dihisasi oleh adanya ABK perikanan yang bekerja di kapal asing mengalami perbudakan hingga meninggal dunia.

Pemerintah RI pun dinilai lambat mengurusi nasib para ABK tersebut. Di dalam negeri sendiri, profesi pelaut hampir luput dari perhatian pemerintah. Ketika pemerintah sibuk menggelorakan kartu Pra Kerja dan Omnibus Law Cipta Kerja, kehidupan pelaut justru kian merana.

Menurut catatan Pergekan Pelaut Indonesia (PPI), banyak pelaut yang terkena dampak dari pandemi Covid-19 ini. Sementara program bantuan pemerintah belum menyentuh aspek kehidupan pelaut.   

“Semestinya anggaran kartu Pra Kerja disalurkan untuk pelaut yang kena dampak Covid-19, baik yang dipulangkan atau yang batal berangkat. Sudah semestinya anggaran itu dialihkan untuk pelaut, mengingat pelaut adalah skilled manpoweryang siap untuk kerja,” ungkap Wasekjen PPI Syofyan kepada Samudranesia, Selasa (26/5).

Program yang telah menyedot anggaran sebesar Rp 20 triliun itu yang akan digelontorkan kepada 5,6 juta orang. Menurut Syofyan, anggaran sebesar itu belum sama sekali menyentuh pekerja di sektor maritim. Sebagian besar dari orientasi program itu masih diperuntukan untuk pekerja yang berkutat di sektor darat.

Artinya pelaut memang masih menjadi anak tiri di negeri sendiri yang selalu terpinggirkan oleh pemerintah. Tentu menjadi suatu hal yang sangat bertolak belakang dengan cita-cita membangun negara maritim.

“Pelaut kita di luar negeri diperbudak, di negeri sendiri dianaktirikan,” tegasnya.

Oleh karena itu, pihaknya tak henti-henti menyuarakan kepada pemerintah untuk memperhatikan nasib pelaut. Kendati terkadang tak digubris, ia menyebut PPI tetap gigih memperjuangkan nasib pelaut walau berhadapan dengan tembok-tembok besar.

Syofyan juga menegaskan bahwa pelaut merupakan tulang punggung perekonomian bangsa. Di dalam negeri, salah satunya, para pelaut lah yang masih bekerja di tengah pandemi ini untuk mengangkut logistik dari pulau ke pulau. Di luar negeri, pelaut Indonesia juga merupakan penyumbang devisa terbesar bagi negara.   

PPI menilai dari jerih payah keringat pelaut tersebut, timbal balik kepada pelaut dari negara sangat kecil. Layaknya seperti ungkapan habis manis sepah dibuang.

 “Pelaut berharap di masa pandemi ini supaya dapat perhatian dari pemerintah bagi mereka yang kena dampak secara langsung yang dipulangkan ke tanah air oleh owner atau bagi mereka yang batal berangkat, dan sampai saat ini belum ada kepastian untuk berangkat kerja lagi. Pelaut yang bekerja di luar negeri adalah pahlawan devisa negara ini. Mereka termasuk penyumbang devisa terbesar,” pungkas Syofyan. (Tyo)

 

 

Article Link: http://samudranesia.id/pelaut-terdampak-pandemi-belum-mendapat-perhatian-pemerintah/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published