Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

Pelaut Indonesia Bertaruh Risiko Berlayar di Tengah Wabah Covid-19

Ilustrasi Foto: Koleksi Museum Maritim Indonesia mengenai jerih payah pelaut Nusantara dalam mengirim barang untuk kebutuhan masyarakat (Sumber: Istimewa)

Jakarta (Samudranesia) – Selain tenaga kesehatan, yang juga bekerja di tengah serbuan virus corona adalah para pelaut. Tanpa memperdulikan keselamatan jiwanya, mereka tetap melayarkan kapal demi mengantarkan berbagai kebutuhan umat manusia ke delapan penjuru mata angin.

Direktur The National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi menyatakan bahwa pelaut pantas disematkan sebagai pahlawan bangsa di tengah merebaknya Covid-19.

“Mereka tentu tidak pernah sama sekali berharap gelar ini ketika menjalankan tugas mulianya. Ketika suasana tenang kelak, ada baiknya pemerintah memikirkan untuk memberikan status sebagai pahlawan kemanusiaan secara resmi kepada mereka,” ungkap Siswanto dalam keterangannya yang diterima Samudranesia, Minggu (29/3).

Sedikit berbeda dengan sejawatnya di sektor kesehatan yang bisa berganti shift kerja, dalam masa sulit ini para pelaut tidak memiliki kemewahan itu.

Siswanto menyebut merebaknya wabah itu justru membuat gerak mereka terbatas. Beberapa mil laut sebelum kapal mereka sandar di pelabuhan, mereka akan didatangi oleh petugas dari otoritas negara pelabuhan.

“Hal ini sebetulnya prosedur standar. Petugas itu biasanya pilot yang akan membimbing kapten menyandarkan kapalnya di dermaga. Kini, yang boarding ke kapal mereka adalah petugas kesehatan pelabuhan yang mengecek kesehatan dan memastikan seluruh personel di atas kapal bebas dari Covid-19,” terang Siswanto.

Pengamat maritim yang dikenal kritis itu menyampaikan bila tidak aman, konsekuensi yang akan diterima para pelaut boleh dibilang luar biasa.

“Mereka akan dikarantina di luar perairan pelabuhan selama 14 hari. Ini berlaku untuk semua jenis kapal. Yang paling parah adalah para pelaut tidak diizinkan untuk melakukan rotasi,” jelasnya.

Padahal, menurut dia, ada pelaut yang bisa jadi sudah setahun atau lebih bekerja di atas kapal dan perlu dirotasi agar performansinya tidak turun. Di tengah wabah Covid-19 memang ada larangan dari berbagai negara pelabuhan bagi pergantian kru.

“Sudahlah dikarantina, pelaut juga tidak tahu kapan bisa pulang ke dalam kehangatan rumahnya,” ungkapnya lagi.

“Apapun keadaannya, pelaut tetap bekerja mengantarkan semua kebutuhan manusia. Bila mereka berhenti seminggu saja, perekonomian dunia akan runtuh,” tegasnya.

Virus Corona memang berdampak luas terhadap perekonomian namun lebih luas lagi kerusakan ekonomi bila pelaut menyetop operasi kapal mereka. Siswanto menyatakan pada titik ini akhirnya menjadi tahu begitu besarnya kontribusi pelaut bagi umat manusia sejak dahulu.

“Pantas rasanya mereka bersanding dengan profesi tenaga kesehatan untuk menerima sebutan sebagai pahlawan kemanusiaan. Penghargaan itu perlu disematkan kepada mereka karena kita makhluk yang beradab,” pungkasnya. (Tyo)

 

Article Link : http://samudranesia.id/tetap-berlayar-di-tengah-wabah-covid-19-pelaut-juga-pahlawan-kemanusiaan/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published