Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

Menyusun Konsep Operasi Maritim Berbasis ‘Soft Systems Methodology’

Jakarta (Samudranesia) – Konsep operasi maritim memerlukan suatu panduan dan rancangan yang komprehensif untuk menentukan keberhasilan dari operasi itu. Guna menjadi panduan untuk TNI Angkatan Laut dan Bakamla, Laksdya TNI (Purn) A. Taufiqoerrachman menulis buku “Konsep Operasi Maritim’ dengan menggunakan Soft Systems Methodology Based Action Research (SSM Based AR) yang didasarkan dari pengalamannya saat berdinas di TNI AL.

“Saya banyak menghabiskan waktu di satuan-satuan operasi, timbul pertanyaan saya waktu itu kenapa kebutuhan saya di satuan operasi tidak bisa terpenuhi sempurna. Kemudian saya ditempatkan di Mabesal sebagai Asrena Kasal, di situlah saya mengetahui bahwa kompleksitas dalam membangun kekuatan itu luar biasa, di situlah baru saya belajar bagaimana tantangan dalam membangun kekuatan itu,” ungkap Taufiq biasa disapa dalam webinar bertajuk “Aplikasi SSM-Based AR Pada Riset Kemaritiman/Militer Dalam Penulisan Buku dan Jurnal” yang diselenggarakan oleh BKI Academy, Jumat (5/6).

“Saya temukan ada suatu permasalahan dalam membangun kekuatan, saya temukan ada 5 tantangan dalam membangun suatu kekuatan sewaktu menjadi Asrena Kasal,” tambahnya.

Menurut mantan Wakasal tersebut, kelima tantangan itu antara lain, pertama pembangunan kekuatan selama ini masih fokus pada postur bukan kekuatan, sehingga masih berfikir pada jumlah dalam membangun kekuatan.

“Padahal dalam membangun kemampuan itu ada empat elemen yaitu struktur kekuatan, kemudian tingkat modernisasi, sustainability, dan readiness. Ini yang kemudian kita olah untuk mencoba memadukan antara postur dan kekuatan itu,” jelasnya.

Kedua, sambung purnawirawan TNI AL yang pernah menjadi Kepala Bakamla itu, selama ini kita belum terbiasa dengan adanya risiko. Jika situasi normal hal itu bisa berlaku, namun ketika dihadapkan dengan situasi nyata kemampuan belum terpenuhi untuk itu.

“Yang ketiga konsep bertempurnya seperti apa? Inilah yang menjelaskan saat kita bertempur dengan operasi gabungan, konsep operasinya belum ada, ini yang kita susun dalam konsep operasi maritim,” terangnya.

Keempat, data dan perencanaan belum bisa digunakan karena ada yang belum valid sebagai dasar persencaan. Dan yang kelima, keterbatasan anggaran sehingga kita belum mampu melaksanakan skala prioritas.

“Nah dari situ kita melihat ternyata ada sesuatu yang belum ada yaitu konsep operasi maritim. Konsep operasi maritim ini bukan hanya sesuatu yang digunakan untuk operasi, tapi suatu dokumen strategis, suatu pernyataan bagaimana kekuatan angkatan laut itu dibangun, dikembangkan, dan dihadapkan kapan, bagaimana dan kepada siapa,” jelasnya lagi.

Pria asal Sukabumi yang memiliki pengalaman sebagai komandan operasi dalam pembebasan sandera di Selat Malaka dan MV Sinar Kudus itu menyatakan konsep operasi maritim itu berangkat dari tugas pokok angkatan laut.

“Di sinilah akan muncul nanti yang namanya susunan bertempur, kekuatan yang akan kita bangun. Di sinilah akan kita susun multiyears planning, waktu yang sangat panjang dalam tahapan untuk menyusun kekuatan dalam satuan-satuan operasi,” tandasnya.

Selain Taufiq, bertindak juga sebagai pembicara antara lain Guru Besar Unhan Laksamana TNI (Purn) Prof Dr Marsetio, Rektor Unhan Laksdya TNI Dr Amarulla Octavian, Dirut PT BKI Rudiyanto, Guru Besar FISIP UI Prof Dr Sudarsono Hardjosoekarto, Dekan FISIP UI Dr Arie Setiabudi Soesilo, Dosen Unhan Laksda TNI (Purn) Dr Sulistyanto, dan Dosen Pascasarjana FIA UI Dr Rachma Fitriati. Bertindak sebagai moderator dalam acara tersebut ialah Kepala BKI Academy Arief Bijaksana Prawira Negara. (Tyo)

 

Article Link: http://samudranesia.id/menyusun-konsep-operasi-maritim-berbasis-soft-systems-methodology/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published