Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

Membangun Maritim Bangsa Lewat Karya AB Lapian

Sejarawan Susanto Zuhdi. Foto: Istimewa

Jakarta (Samudranesia) – Sejarawan maritim AB Lapian yang terkenal dengan karyanya ‘Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX’ telah menjadi referensi utama dalam wawasan sejarah maritim Nusantara. Selain itu, karya lainnya yang berjudul ‘Sejarah Nusantara, Sejarah Bahari’ juga menjadi sumber rujukan perjalanan kebaharian Indonesia dari masa ke masa.

Sejarawan Universitas Indonesia (UI) Prof Susanto Zuhdi dalam webinar bertajuk ‘Jangan Lupa Lautan: Mengenang 91 Tahun AB Lapian’ mengupas tuntas karya-karya AB Lapian yang merupakan seorang pembimbing dalam perjalanan karirnya.

Webinar yang diselenggarakan oleh Komunitas Bambu bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Selasa (1/9) itu dimoderatori oleh Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Ditjen Kebudayaan, Restu Gunawan yang mewakili Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid yang berhalangan hadir.

Hadir sebagai narasumber selain Susanto Zuhdi antara lain Albert Lapian mewakili keluarga, Pembelajar sejarah Alex Ualen, Peneliti LIPI Dedi S Adhuri.

Menurut Susanto dalam paparannya, AB Lapian bukan saja hanya menulis soal sejarah maritim tetapi juga sejarah lingkungan dan diplomasi. Salah satu karyanya yang belum banyak diketahui orang mengenai sejarah diplomasi Indonesia ditulisnya dalam buku berjudul ‘For Better or Worse: Collected Essays on Indonesian-Dutch Encounters’.

“Buku ini ditulis dalam Bahasa Inggris, mohon nanti Pak Direktur (Restu Gunawan) bisa menyebarluaskan buku ini yang mungkin dulu dicetak hanya terbatas,” ungkap Susanto.

Baca Juga: Mengenang 91 Tahun Sang Nakhoda Kajian Maritim

Yang menarik dari buku itu, sebut Susanto adalah adanya insiden di perairan Cirebon menjelang Perundingan Linggarjati tahun 1947. Perundingan yang menghasilkan salah satunya soal pengakuan Belanda terhadap wilayah de facto Republik Indonesia atas Jawa, Sumatra dan Madura itu ternyata menyimpan peristiwa penting sebelumnya.

“Apa yang terjadi? Tentu kita masih ingat inikan belum ada Deklarasi Djuanda, jadi masih 3 mil kan kedaulatan (laut yurisdiksi). Nah insiden itu apa? Ini insiden yang membuat Schermerhorn (pemimpin Delegasi Belanda) didamprat lah katakan oleh ratu dan itu dia ceritakan di dalam bukunya. Kenapa? Karena Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) saat itu tidak mau kalau delegasi Belanda itu turun bersandar (di Cirebon). Di luar dermaga mereka sengaja di-setop (oleh ALRI), ‘Anda tidak boleh masuk, biar kami yang membawa Anda,” ucap Susanto seraya menirukan percakapan dalam buku tersebut.

Ia menyebutkan ALRI saat itu dengan RI Gajah Mada memberhentikan iring-iringan kapal Belanda yang membawa delegasi Belanda di Perundingan Linggarjati. Hampir terjadi pertempuran saat itu antara Angkatan Laut Belanda dengan ALRI. Tapi setelah berunding akhirnya, delegasi Belanda mengalah untuk dipandu oleh RI Gajah Mada memasuki perairan Cirebon.

“Inikan diplomasi, ini yang disebut kalau sekarang barangkali smart power. Artinya bahwa Belanda mengakui kedaulatan Indonesia sebelum Linggarjati. Inilah kejelian-kejelian yang dilakukan oleh Pak Lapian. Nah kita coba lakukan studi-studi semacam ini ke depannya,” terang Susanto.

Ia menambahkan bahwa sejarah juga identik dengan teori-teori tergantung dengan apa permasalahannya. Sejarawan juga banyak dikritik karena tidak mengacu kepada suatu teori (ilmu penegetahuan). AB Lapian hadir di sini dalam ‘Orang Laut’, Bajak Laut, ‘Raja Laut’, sehingga menurut Susanto, sejarawan bisa melahirkan teori atau konsep, begitu pula sejarawan lainnya di Indonesia seperti Sartono Kartodirjo yang juga melahirkan teori ‘Gerakan Sosial’.

“Pak Lapian juga sering menyebut (teori) Talccot Parsons. Saya tidak pernah melihat ada sejarawan menulis teori di depan, tapi itu ditulis baru belakangan (dalam bukunya) jadi untuk merefleksikan apa yang bisa dimodifikasi atau disempurnakan,” jelasnya.

Susanto berharap agar studi-studi sejarah tampak terlihat dalam suatu kebijakan dan ada penerusnya. Maka dari itu dalam kategori sejarah maritim, ia memiliki tantangan untuk meneruskan apa yang telah dirintis oleh AB Lapian.

Refleksi AB Lapian

Soal Refleksi pemikiran, ia melihat banyak gagasan AB Lapian yang kini berkontribusi dalam kebijakan. Salah satunya soal Lagu Indonesia Raya 3 Stanza. Di mana dalam Stanza 2 dan 3 terdapat kata-kata soal “jaga lautku, jaga pulauku’

“Ini saya kira soal kesadaran sejarah. Loh kok baru sadar sekarang kenapa laut harus dijaga, pulau harus dijaga? Nah ini pelajaran sejarah apa yang saya kira dipikirkan benar oleh Pak Lapian, mengenai laut yang utama. Pak Lapian yang mengoreksi bahwa archipelago itu bukan negara kepulauan. Archi itu yang utama, yang terpenting dan pelagos itu bukan pulau tapi laut jadi kalau saya mengatakan utamakan laut,” bebernya.

“Pak Lapian juga yang menyatakan negeri kita bukan pulau yang dikelilingi laut tapi laut yang dikelilingi pulau. Kita hafal tapi untuk membentuk mindset ini butuh satu generasi, karena disertasinya Pak Lapian sekitar tahun 87,” tambah dia.

Susanto menegaskan banyak pemikiran-pemikiran AB Lapian yang masih sangat relevan saat ini untuk pembangunan maritim dan pengelolaan pesisir.  

 “Visi misi Pak Jokowi itu kan 100 persen sejarah kalau enggak 1000 persen. Mau menjadi negara maritim yang kuat, bangsa kembali jaya di laut. Kalau kembali kan berarti pernah, kalau pernah berarti kan sejarah itu dan maritim tentunya,” pungkas Susanto. (Tyo)

 

 

Article Link: http://samudranesia.id/membangun-maritim-bangsa-lewat-karya-ab-lapian/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published