Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

KKP Akui Budidaya Lobster Menurun Drastis Akibat Permen KP 56/2016

Dirjen Perikanan Budidaya, KKP, Slamet Soebjakto (dok. KKP)

Jakarta (Samudranesia) – Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto mengakui budidaya lobster Indonesia sejak 2013 menurun drastis. Puncaknya ketika Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengeluarkan peraturan menteri bencana bagi para pelaku usaha lobster, yakni Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) No.56/2016 tentang Larangan Penangkapan atau Pengeluaran Lobster, Kepiting dan Rajungan dari Wilayah Negara Republik Indonesia.

“Hasil budidaya lobster di Indonesia sudah mulai turun sejak 2013 dan ditambah lagi keluarnya Permen KP 56/2016 yang melarang pembudidayaan,” kata Slamet dalam Webinar Politeknik Ahli Usaha Perikanan (AUP) bertema ‘Era Baru Pengelolaan Sumber Daya Lobster di Indonesia’, Kamis (4/6).

Menurut pria yang sudah menjadi Dirjen Perikanan Budidaya sejak tahun 2012 itu, saat ini memang tren lobster dunia mengalami penurunan. Seluruh produksi lobster masih mengandalkan hasil tangkap.

Maka dari itu, ia menyambut gembira ketika keluarnya Permen KP 12/2020 tentang Pengelolaan Lobster, Kepiting, dan Rajungan di wilayah Republik Indonesia. Permen ini telah membuka peluang Indonesia sebagai produsen lobster dunia dari sektor budidaya sangat tinggi.

“Dengan adanya Permen 12/2020 ini, upaya-upaya untuk budidaya akan kita lanjutkan. Saat ini produsen lobster dunia masih didominasi oleh Vietnam, kedua adalah Indonesia,” ungkapnya.

Perairan Indonesia merupakan tempat yang baik bagi perkembang biakan lobster jenis mutiara, pasir, batik dan bambu. Utamanya untuk jenis mutiara dan pasir.

Menurut Slamet, untuk budidaya lobster juga ditentukan oleh stok benih bening lobster yang tersedia di alam.

“Di budidaya, kita sudah siapkan rencana aksi dan pendukung lainnya, seperti pedoman-pedoman untuk pembudidaya lobster itu sendiri,” tuturnya.

Pria kelahiran Banjarnegara, 59 tahun silam ini menyebut beberapa lokasi budidaya lobster telah dibuka. Salah satunya di Teluk Kelong, Lombok Timur.

“Harapan kita daerah budidaya lobster itu bukan daerah atau kawasan penangkapan benih-benih lobster,” imbuhnya.

Dalam rencana aksi yang sudah disusunnya, pembudidayaan lobster nantinya adan yang menggunakan metode tumpang sari, yaitu pembudidayaan bersama komoditas lainnya. Untuk teknologi, pihaknya juga terus mempersiapkan dengan mempelajari dari negara lain, seperti Vietnam dan Australia.

Sedangkan untuk pakan, Slamet menyatakan budidaya kerang hijau dan ikan rucah akan digalakkan untuk menopang budidaya lobster.

“Kita akan melakukan budidaya kerang hijau untuk pangannya, sehingga nanti akan muncul kelompok-kelompok pembudidaya kerang hijau. Selain kerang hijau, untuk ikan rucah juga kita siapkan,” pungkasnya. (Tyo)

 

Article Link: http://samudranesia.id/slamet-soebjakto-akui-budidaya-lobster-menurun-drastis-akibat-permen-kp-56-2016/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published