Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

Kiat Masyarakat Tambrauw Jaga Kelestarian Laut yang Patut Ditiru

Ilustrasi Foto: Istimewa.

Tambrauw (Samudranesia) – Laut adalah sumber kehidupan. Slogan itulah yang menjadi pegangan hidup masyarakat, utamanya mereka yang tinggal di daerah pesisir. Bisa dipahami, karena dari laut itu mereka bisa memenuhi setiap hajat hidup. Yang paling sederhana misalnya mencari atau menangkap ikan sebagai upaya untuk menafkahkan anak-istri atau keluarga. Dan, banyak lagi kepentingan lain yang tentunya bersumber dari laut.

Bayangkan jika laut sampai tercemar, atau lebih parah lagi rusak lingkungannya.  Bukan tak mungkin, tak ada lagi sumber kehidupan yang bisa diandalkan. Jangankan untuk anak-cucu di masa depan, untuk mereka yang hidup saat ini pun belum tentu bisa diharapkan. Dan, tak bisa dipungkiri bahwa wajah laut kita dewasa ini cenderung dalam kondisi yang jauh dari kata ideal. Bukan cuma masalah sampah yang turut andil dalam merusak kelestarian laut, tapi juga kebiasaan sebagian masyarakat yang kurang bijak dalam mengeksploitasi laut. Contohnya, menangkap ikan dengan cara yang destruktif, menggunakan bom ikan dan lain sebagainya.

Terkait upaya pelestarian laut atau lebih spesifik, ekosistem laut, coba deh contoh gaya masyarakat Tambrauw, di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Tradisi yang secara rutin dan turun-temurun dilakukan sejak dahulu kala untuk menjaga keseimbangan laut ini dinamakan sasi. Karenanya, tradisi ini bisa dianggap sebagai kearifan lokal yang hingga saat ini masih eksis. Dan, terbukti lewat sasi ini masyarakat Tambrauw berhasil menjaga kelestarian laut di wilayahya. Artinya, keseimbangan ekosistem di dalamnya tetap terjaga sejauh ini. Khususnya ikan, sumber daya ikan di perairan seputar Tambrauw populasinya tetap terjaga.

Jika ditelisik, tradisi sasi itu sebenarnya sangatlah sederhana. Tradisi ini hanya terdiri dari dua step, sasi tutup dan sasi buka. Pada periode sasi tutup, sesuai peraturan, masyarakat Tambrauw dilarang untuk menangkap ikan. Larangan menangkap ikan ini diberlakukan selama enam bulan. Tujuannya, tentu saja untuk mengembalikan kondisi lingkungan alam bawah laut menjadi normal secara alami. Populasi biota laut, tak terkecuali ikan bisa berlangsung secara alami sehingga hasilnya bisa kembali berlimpah.

Dan, selama enam bulan periode sasi tutup, masyarakat Tambrauw termasuk tetua adat sekalipun harus “puasa” menangkap ikan. Karenanya, untuk memenuhi kebutuhan keluarga biasanya mereka mencari ikan di tempat lain. Sementara, wilayah perairan yang harus bebas dari perburuan ikan ditentukan oleh tetua adat. Contohnya, perairan di seputar Pulau Dua, termasuk kawasan Distrik Werbes, yang menurut informasi terbilang wilayah perairan yang cukup menjanjikan.

Setelah enam bulan masa sasi tutup dilalui, sasi buka pun digelar. Dalam kesempatan ini masyarakat Tambrauw boleh dibilang bisa melakukan panen ikan. Secara serempak dan beramai-ramai mereka melaut. Namun begitu, mereka tak boleh sembarang melakukannya. Ada sejumlah hal tabu yang tak boleh dilanggar, salah satunya saat memancing atau menangkap ikan harus menggunakan tombak. Dari aturan ini bisa dipastikan betapa masyarakat Tambrauw begitu kokoh memegang komitmen untuk selalu menjaga kelestarian laut. Seperti diketahui, tombak termasuk alat tangkap ikan yang ramah lingkungan.   

Perlu dicatat, sasi buka yang dilaksanakan masyarakat Tambrauw umumnya tak hanya terkait dengan upaya pelestarian atau penyeimbangan ekosistem laut, tapi juga terselip maksud lain. Yakni, terkait dengan perayaan adat tertentu yang erat hubungannya dengan ritual keagamaan. Tradisi menjaga kelestarian laut masyarakat Tambrauw telah menunjukkan hasil yang menjanjikan. Upaya ini tentunya tidak saja membuat lingkungan alam bawah laut khususnya tetap terjaga, tetapi juga menjamin ketersediaan sumber daya ikan di perairan setempat. Alhasil, kebutuhan masyarakat akan ikan sejatinya akan selalu terpenuhi.(Guss)

 

Article Link : http://samudranesia.id/kiat-masyarakat-tambrauw-jaga-kelestarian-laut-yang-patut-ditiru/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published