Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

Kerapu Masih Menjadi Primadona Ekspor di Tengah Covid-19

Kerapu hidup menjadi primadona ekspor di tengah pandemi.

Jakarta (Samudranesia) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan ekspor kerapu hidup, khususnya hasil budidaya kembali menggeliat. Otoritas Pemerintah Hongkong, juga memastikan bahwa kran impor untuk kerapu hidup terus terbuka meski di tengah wabah pandemik Covid-19.

Aktivitas terlihat dari ekspor kerapu yang baru-baru ini dilakukan melalui jalur laut dengan tujuan ekspor Hongkong, masing-masing melalui Maratua, Kalimantan Timur sebanyak 15 ton dengan nilai mencapai 123.750 dolar AS yang dilakukan oleh PT. Bintan Indo Sejahtera dan melalui Kijang, Kabupaten Bintan- Kepulauan Riau sebanyak 4 ton kerapu hidup dengan nilai mencapai 24.000 dolar AS dilakukan oleh PT. Nagama Samudera.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto di Jakarta, Rabu (6/5), mengatakan bahwa kinerja ekspor kerapu mulai berjalan normal kembali, setelah sebelumnya terhambat akibat demand turun. Khususnya pada awal-awal wabah pandemi Covid-19 melanda Tiongkok hingga Maret lalu.

Menurutnya, kembali stabilnya kinerja ekspor kerapu akan memicu geliat usaha budidaya kerapu yang dilakukan para pembudidaya di sentral-sentral produksi.

“Ekspor kerapu akan mendongkrak nilai devisa ditengah hantaman ekonomi akibat Covid-19. Saya rasa, ini jadi angin segar dan harapan untuk mempercepat recovery kondisi kinerja ekonomi makro kita. Di sisi lain, stabilitas kinerja ekspor dipastikan akan memicu aktvitas usaha mayarakat pembudidaya kerapu di berbagai daerah kembali bergeliat. Dengan demikian ekonomi masyarakat akan terdongkrak,” ungkap Slamet.

Slamet menambahkan ekspor kerapu Indonesia memberikan kontribusi cukup besar terhadap total nilai ekspor produk perikanan nasional. Ia juga memastikan bahwa seiring dengan revisi Permen KP No 32 tahun 2016, KKP akan terus mendorong aktivitas budidaya kerapu ini kembali berkembang di masyarakat. Slamet juga meminta, para eksportir atau pemilik usaha budidaya skala besar menggandeng masyarakat pesisir untuk melakukan kemitraan usaha, sehingga mereka dapat diberdayakan.

“Kami mendorong para pengusaha besar ini bisa bermitra dengan masyarakat sekitar dalam rangka pemberdayaan melalui usaha budidaya ikan kerapu. Polanya silahkan bisa diatur, apakah nanti ada sistem segmentasi usaha atau seperti apa. Intinya, secara makro ekonomi ekspor kerapu bisa terus tumbuh, namun di lain pihak aktivitas budidaya di level masyarakat juga berkembang sebagai alternatif usaha,” jelas Slamet.

Sebelumnya Slamet juga memastikan bahwa layanan penerbitan Surat Izin Pengangkutan Ikan Hidup (SIKPI) hasil Pembudidayaan Ikan kini telah dipermudah dan dibuat fleksibel selama masa kedaruratan pandemik Covid-19. Menurutnya, ini merupakan upaya KKP dalam memberikan pelayanan prima terhadap stakeholders dan diharapkan akan memperlancar aktivitas ekspor.

“Terkait penerbitan SIKPI Hasil Pembudidayaan Ikan, selama wabah Covid-19 ini, kami telah lakukan perubahan, utamanya dalam hal permohonan izin yang bisa dilakukan secara online. Jadi pemohon tidak harus datang langsung, tinggal upload kelengkapan berkas, kita verifikasi dan izin akan terbit. Upaya ini juga agar aktivitas ekspor terutama ikan kerapu tidak terganggu hanya karena birokrasi layanan yang tidak efisien”, pungkasnya.

Setidaknya sepanjang akhir April hingga awal Mei 2020, ada tiga aktivitas ekspor kerapu hidup yang dilakukan di tiga Provinsi yakni Kepulauan Riau, Kalimantan Utara dan Sumatera Utara. Ketiga daerah tersebut merupakan sentral produksi budidaya ikan kerapu di Indonesia.

Selain ketiga daerah tersebut, pada tanggal 3 Mei 2020 kemarin seharusnya ada aktivitas ekspor kerapu hidup di Pulau Sembilan, Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara, namun kegiatan tersebut ditolak oleh masyarakat. Penolakan ini lantaran adanya kekhawatiran dari masyarakat setempat terhadap kru kapal angkut yang diduga membawa wabah Covid-19.

“Kapal angkut Hongkong ini sudah memenuhi prosedur untuk mengangkut kerapu hidup dan telah menjalani masa karantina selama 14 hari serta telah melengkapi administrasi keimigrasian, sehingga mereka bukan membawa wabah Covid-19, tapi mereka membawa devisa bagi negara Indonesia. Semoga kondisi seperti ini tidak terulang lagi di lokasi lain, sehingga aktivitas ekspor kerapu hidup bisa terus berjalan lancer,” harap Slamet.

Sebelumnya, Pemilik PT. Putri Ayu Jaya perusahaan eksportir kerapu di Natuna, Eko Prihananto mengatakan bahwa ekspor kerapu ke Hongkong, utamanya dari Kepulauan Natuna masih terus berjalan. Hanya saja menurutnya, ada penurunan harga di negara tujuan ekspor akibat dampak wabah Covid-19. Meski terjadi penurunan tersebut, diakuinya tidak terlalu signifikan.

“Kalau dibandingkan sebelum wabah Covid-19 memang ada penurunan harga, namun tidak signifikan. Kalau dihitung ya paling hanya sekitar 3 persen penurunannya. Penurunan tersebut disebabkan memang selama wabah Covid-19 demand di tingkat konsumen agak turun juga. Tapi, secara umum tidak memberikan pengaruh berarti terhadap aktivitas ekspor kerapu dari Natuna,” pungkas Eko. (Tyo)

 

Article Link: http://samudranesia.id/kerapu-masih-menjadi-primadona-ekspor-di-tengah-covid-19/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published