Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

Kematian dan Pelarungan Jenazah ABK Indonesia di Laut Somalia Terungkap

Nasib ABK WNI di kapal ikan China.

Jakarta (Samudranesia) – Penganiayaan dan kekerasan fisik diduga dialami warga Indonesia yang menjadi anak buah kapal atau ABK di kapal penangkap ikan berbendera Cina, Luqing Yuan Yu 623. Kekerasan fisik yang dialami oleh ABK bernama Herdianto itu diduga menjadi penyebab ia tewas dan dilarung ke laut Somalia.  

“Sebelum meninggal, Herdianto terindikasi terjadi mengalami penganiayaan, tindakan kekerasan fisik (pukulan dan tendangan dengan menggunakan pipa besi, botol kaca dan setrum),” ujar M. Abdi Suhufan dari National Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia dalam keterangan tertulisnya, Ahad, 17 Mei 2020.

Abdi mengatakan, kekerasan fisik terhadap Herdianto mengarah kepada indikasi kerja paksa. Akibatnya, Herdianto lumpuh hingga akhirnya meninggal dunia. “Pada saat kejadian meninggalnya Herdianto, para ABK meminta kembali ke ke darat tapi tidak diizinkan nakhoda dan tetap menangkap ikan,” jelasnya. 

Praktik perbudakan dan kekerasan yang dialami Herdianto itu viral di media sosial setelah video pembuangan jenazahnya beredar pada Sabtu, 16 Mei 2020. Dalam video yang terbagi menjadi beberapa bagian itu, terlihat juga kondisi ABK yang diduga Herdianto lumpuh hingga harus dibantu 3 rekan ABK lain untuk berdiri. 

Dalam cuplikan video yang lain, Herdianto tampak sudah tidak bernyawa dan jenazahnya dibungkus dengan kain bewarna oranye. Di video selanjutnya, jenazah dilempar ke laut oleh 4 ABK lainnya.

Saat ini kapal Lu Huang Yuan Yu 115 dalam perjalanan ke China. Selain kapal Lu Huang Yuan Yu 115, ada kapal berbendera China lain yang mempekerjakan ABK Indonesia yaitu LQYY 622, LQYY 623 dan LQYY 625 yang berjumlah 22 orang. Berdasarkan hasil pelacakan DFW-Indonesia disitus marine traffic.com, kapal Lu Huang Yuan Yu 115 melintasi Selat Singapura pada tanggal 15/5/2020 pukul 07.44 UTC dengan tujuan Beijing.

Atas dasar temuan itu, DFW-Indonesia mendesak pemerintah melalui Kementerian Perhubungan, BP2MI dan Kementerian Tenaga Kerja saling bekerjasama untuk mengusut agen yang mengirimkan ABK Indonesia dan dipekerjakan di kapal Luqing Yuan Yu 623. Mereka juga meminta pemerintah Indonesia melakukan moratorium pengiriman ABK Indonesia ke kapal China. 

“Kementerian Luar Negeri harus segera berkoordinasi dan meminta keterangan pemerintah Cina atas kasus yang dialami ABK Herdianto yang sakit dan meninggal di kapal Luqing Yuan Yu 623 dan dilarung di laut Somalia,” ujar Abdi.

Mengingat kejadian ini merupakan peristiwa kedua dalam kurun waktu seminggu ini yang menimpa ABK Indonesia yang bekerja di kapal China, Abdi meminta Presiden perlu melakukan evaluasi secara total dan menyeluruh terhadap perjanjian dan kerjasama pengiriman ABK Indonesia yang bekerja di kapal ikan berbendera China. Seperti diketahui pengiriman ABK selama ini dilakukan secara terpisah oleh Kementerian Perhubungan, BP2MI, Kemenaker, Pemerintah Daerah dan secara mandiri.

“Selama proses evaluasi tersebut berlangsung, pemerintah perlu melakukan Moratorium pengiriman ABK Indonesia untuk bekerja di kapal China,” tegasnya. 

Menurutnya, kejadian ini menjadi momentum bagi pemerintah untuk melakukan perbaikan tata kelola awak kapal perikanan yang bekerja di dalam dan luar negeri. Khsusunya tata kelola ABK migran, pemerintah perlu secepatnya mengesahkan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Penempatan dan Pelindungan Awak Kapal Ikan dan Pelaut Niaga.

“Adapun bagi ABK didalam negeri upaya perlindungan dilakukan dengan meningkatkan efektfitas pelaksanaan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No 42/2016 tentang Perjanjian Kerja Laut dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No 35/2015 tentang Sertfikasi HAM Perikanan,” pungkasnya. (Tyo)

 

Article Link: http://samudranesia.id/kematian-dan-pelarungan-jenazah-abk-indonesia-di-laut-somalia-terungkap/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published