Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

Ini Pandangan Aktivis Pelaut Pelayaran Niaga Soal Karut Marut KPI

Capt. Dwiyono Soeyono

Jakarta (Samudranesia) – Kepemimpinan Presiden Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) Prof. Dr Mathias Tambing terus menjadi sorotan para pelaut Indonesia karena sikapnya yang enggan menerima kritikan dari pelaut.

Mathias juga dianggap bukan sebagai pelaut dan telah menyelewengkan uang organisasi yang bersumber dari para pelaut. Selain itu kepemimpinannya juga dianggap cacat hukum

Di bawah kepemimpinannya, KPI selaku organisasi pelaut terbesar di Indonesia terus merosot dan terlihat lalai dalam memperjuangkan permasalahan pelaut saat ini. Tuntutan untuk segera dilaksanakan Musyawarah Nasional Luar Biasa-Munaslub KPI terus mengalir dari para pelaut.

Terkait hal itu, aktivis pelaut pelayaran niaga, Capt. Dwiyono Soeyono menilai bahwa Kantor KPI merupakan rumah bersama pelaut Indonesia, bukan yang lainnnya.  

“Di dalamnya milik pelaut. Pengurusnya dibayar dana pelaut termasuk satpam-satpam untuk mengurus pelaut niaga. Pengacara atau yang bukan pelaut juga dibayar pakai dana pelaut. Aparat penegak hukum yang dibayar untuk melindungi aset dan atau pengurus siapapun adalah dibayar oleh dana pelaut untuk kepentingan pelaut dan bukan kepentingan lain,” ucap Capt Dwiyono dalam keterangannya kepada Samudranesia, Sabtu (18/7).

Ia pun berharap agar marwah organisasi KPI bisa kembali lagi sebagai organisasi yang berasal dari, oleh dan untuk pelaut. Menurutnya banyak permasalahan yang saat ini dihadapi oleh pelaut Indonesia, namun kehadiran KPI seperti tidak ada sama sekali.

“Siapa yang pelaut dan siapa yang bukan pelaut? Logika berfikir sederhana saja untuk mereka yang bukan pelaut, tidak usah setingkat profesor untuk berfikir demikian, kecuali profesor yang tidak bisa berfikir intelektual,” terangnya.

Dengan kata lain, ia meminta agar Presiden KPI saat ini tahu diri demi kepentingan pelaut. Ia pun tidak ingin karut marut organisasi ini terjadi berlarut-larut, di mana pihak yang paling dirugikan adalah pelaut.

“Bila mereka yang bukan pelaut memiliki martabat dan beradab, tentunya akal sehatnya bisa mencerna ini. Bahasa yang sangat sederhana dan tidak perlu akademik setingkat profesor,” jelasnya.

“Karena memang sampai kini negara maritim ini tidak punya SDM tenaga ahli maritim niaga yang linier setingkat S3/Doctor apalagi profesor. Potensi tingkat pakar sudah sejublek, tapi negara maritim niaga ini juga tidak mau dan belum nampak niat baik melegitimasikan dengan pengakuan yang formil,” tambah dia.

Dalam cita-cita besar mewujudkan negara maritim dalam bingkai Poros Maritim Dunia, tentu keberadaan pelaut menjadi ujung tombaknya. Namun ketika organisasi terbesarnya tercabik-cabik dalam konflik dan kepentingan kelompok tertentu, Capt. Dwiyono berniat sekali untuk mengakhiri kekisruhan ini.

“Zaman jahiliyah pola fikir maritim ini harus berakhir dan diakhiri. Itulah salah satu ruh misi besar dalam perjuangan reformis pelaut niaga, melalui serikat pekerja pelaut yang berdaulat. Bukan serikat pekerja yang diurus manusia-manusia sesat dan parahnya bukan pelaut pula,” tegasnya.

Ia pun berharap pada 17 Agustus 2020 mendatang, bertepatan dengan hari jadi KPI, terselenggara Munaslub demi kepentingan pelaut sebagai tulang punggung negara maritim.

“Target maksimal 17.08.2020 bersamaan dengan HUT, pelaut sudah berdaulat di tangan reformis aktivis pelaut pelayaran niaga. Merdeka di laut, beradab bermartabat di darat, berdaulat dalam negara maritim,” tegasnya lagi.

Di akhir penjelasannya, Capt Dwiyono menuturkan kata-kata filosofis terkait perjuangan untuk mencapai kebenaran.

“Seorang aktivis sejati kekayaannya adalah meyakini ada sesuatu yang benar harus disuarakan. Dan kekayaan demikian akan dibanggakan pendampingnya dalam hidup dan diwariskan. Dia pengukir amal untuk dirinya dan karyanya dicatat sejarah lalu dinikmati sang pewaris sebagai manfaat,” ungkapnya.

“Lanjutkan perjuangan sebatas kemampuan diri. Namun, Sang Khalik mencipta insan khusus yang tidak disadari memiliki kemampuan di atas rata-rata. Itulah kekayaanmu, itulah fitrah aktivis sejati,” tutupnya. (Tyo)

 

 

Article Link: http://samudranesia.id/ini-pandangan-aktivis-pelaut-pelayaran-niaga-soal-karut-marut-kpi/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published