Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

Industri Perikanan NTB, ‘Berlari di Tengah Lumpur’

Ilustrasi Foto: Net

Jakarta (Samudranesia) – Nasib industri perikanan di Provinsi Nusa Tenggara Bara (NTB) dari tahun ke tahun tidak menunjukan hasil yang signifikan. Padahal potensi kelautan dan perikanan NTB terbilang cukup besar di Indonesia.

Ketua Front Nelayan Indonesia (FNI) Rusdianto Samawa yang merupakan putra asli Sumbawa-NTB itu miris melihat perkembangan industri perikanan di daerahnya.

“Industri Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB sedang dalam stagnan. Tidak memiliki inovasi dan terseok-seok. Ibarat kata “berlari di tengah lumpur”. Bayangkan kalau berlari di tengah lumpur, betapa capek, berat dan mandeg,” ungkap Rusdianto dalam keterangannya yang diterima redaksi, Senin (27/4).

Hadirnya seorang Gubernur NTB Zulkieflimansyah yang membawa visi industrialisasi untuk mengejar ketertinggalannya, sambung Rusdianto tidak bisa ditafsirkan secara menyeluruh oleh jajaran di bawahnya.

“Yang membuat stagnan itu, sulit untuk dikerjakan karena selama ini tidak ada platform akselerasi kebijakan antara pemerintah, pelaku UKM, IKM dan masyarakat pesisir. Padahal, industrialisasi kelautan dan perikananan sebagai jalan keluar untuk mengatasi kendala ekonomi dan menguranggi kemiskinan pesisir,” jelasnya.

Namun, bagi masyarakat pesisir NTB sangat terbarukan ide induatrialisasi ini. Karena potensi yang harus dikembangkan sangat banyak dan pekerjaan rumah yang menumpuk. Sehingga membutuhkan kepemimpinan yang kuat saat ini.

“Ide dan gagasan industrialisasi perikanan NTB sangat cocok dalam mengembangkan dua aspek yakni perikanan tangkap dan budidaya walaupun sebetulnya tertinggal. Namun, masyarakat NTB belum benar-benar menguasai dan memaknai istilah industrialisasi yang hanya bisa dilakukan oleh kapitalis-kapitalis besar. Padahal, budaya masyarakat itu ada pemberdayaan,” beber dia.

Ia menjelaskan beberapa hal karakter dan corak masyarakat NTB belum bisa menyingkap apa itu industrialisasi.

“Pertama, dianggap sulit tanpa mencoba. Jadi sudah meragukan sebelum melakukan. Kedua, karakter masyarakat ingin jadi raja dan ratu. Jadi sulit masuk ilmu maupun pengalaman pemberdayaan karena ingin instan. Ketiga, bersifat komsumtif, dalam arti ingin selalu ada dan beli apapun yang di inginkan. Keempat, sulit mengajak bekerja untuk berproduksi. Kelima, kadang kreatifitas dan inovatif ditertawakan dan tidak menjunjung tinggi nilai-nilai atas penemuan yang baru,” ulasnya.

Kelima karakter dan corak di atas, menurut dia sangat sulit untuk memajukan keadaan di lingkungannya. Sehingga visi industrialisasi pun terkadang menjadi bahan tertawaan publik. Padahal, visi industrialisasi ini cukup gampang ditemukan dan dilakukan, terutama di sektor Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB.

“Sebenarnya, program industrialisasi itu sebagai respons terhadap peran ekonomi, industrialisasi dan manufaktur di sektor Kelautan dan Perikanan NTB yang belum maksimal. Industrialisasi perikanan merupakan proses perubahan sistem produksi hulu dan hilir untuk meningkatkan nilai tambah, produktivitas dan skala produksi sumber daya kelautan dan perikanan,” terangnya.

Sektor kelautan dan perikanan NTB membutuhkan perbaikan pada sistem produksi. Kalau dilihat dari sisi infrastruktur yang mendukung sungguh sudah memadai, seperti cold storage, Pelabuhan Perikanan Nasional (PPN), pabrik es, pabrik olahan rumput laut dan industri olahan Ikan.

Selain itu, NTB juga memiliki potensi masyarakat pesisir yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga yang ikut mengolah ikan, kepiting, terasi, udang, kerupuk ikan, rumput laut dan lainnya. Yang masih kurang adalah industri pengeringan pengasinan ikan maupun pengalengan ikan (Surimi).

“Sebenarnya, potensi manufaktur kelautan dan perikanan NTB sangat besar. Namun tidak dikelola secara baik dan benar. Salah satu primadona yang bisa menghasilkan itu yakni garam, lobster dan rumput laut. Ketiga jenis komoditas ini, dukungan infrastrukturnya sangat memadai sehingga harus segera dikelola tanpa menunggu lagi,” ungkapnya.

Menurutnya, industrialisasi perikanan NTB bisa memilih opsi yakni: opsi produksi budidaya dan opsi perikanan tangkap. Jika keduanya dilakukan, maka kewajiban yang dilakukan terlebih dahulu modernisasi alat produksi nelayan, seperti mesin, kapal, tambak, hatchery, dan alat tangkap serta lainnya.

Pendekatan visi induatrialisasi tentu sudah memiliki arah kebijakan yang terintegrasi antara ekonomi makro, pengembangan infrastruktur, sistem usaha dan investasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta sumber daya manusia untuk kesejahteraan rakyat.

Jadi, nilai tambah, produktivitas, dan modernisasi menjadi kata kuncinya program Industrialisasi Perikanan NTB melalui transformasi sosial-ekonomi perikanan. Dengan demikian, industrialisasi perikanan tidak semata-mata unit pengolahan ikan (UPI), tetapi aktivitas hulu, baik penangkapan, budidaya, kegiatan UMKM, IKM dan olahan hasil industri rumah tangga.

“Apalagi NTB sudah masuk zona distribusi hasil perikanan melalui pengaturan Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN) sehingga pasokan bahan baku ikan dan harganya bisa stabil. Tangkapan nelayan juga bisa meningkat,” tegasnya.

“Ke depan harus optimis bahwa industrialisasi perikanan NTB dapat segera tumbuh seiring dengan komitmen pemerintah Provinsi NTB dan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Industri Perikanan Nasional. Apabila ada proses percepatan, maka kurun waktu 3-5 tahun mendatang, sudah pasti mengalami peningkatan seperti ekspor udang, ikan, lobster, kepiting, manufaktur, pengalengan ikan, surimi, fillet, dan lainnya,” pungkasnya. (Tyo)

 

Article Link: http://samudranesia.id/industri-perikanan-ntb-berlari-di-tengah-lumpur/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published