Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

Harga Sudah Bagus, Petani Garam Sulit Jual Hasil Panen

Petambak Garam

Jakarta (Samudranesia)-Sampai dengan Oktober 2020 harga garam di taraf petani sudah lumayan cukup baik. Harga jualnya saat ini mencapai Rp 420 –Rp 500 per kilogram. Dikatakan membaik karena di awal tahun harga garam rakyat sempat mencapai angka Rp 150 per kilo. Namun kenaikan harga ini belum cukup membuat petani garam senang.

“Saat ini penyerapannya cukup sulit,” kata Yogi Adi Raharjo, petani garam dari Koperasi produsen garam Rezeki Agung, Kecamatan Losarang, Indramayu, Jawa Barat.

Tahun 2019, hasil produksi garam dari koperasi ini mencapai 8200 ton. Namun yang baru terserap ke pasar sekitar 70 persen dan 30 persen sisanya atau sekitar 1300 ton masih tersimpan di gudang. Sementara sampai September 2020 ini, Yogi mengaku hasil produksi garam di koperasi  mencapai 1500 ton dengan penyerapan yang baru mencapai 900 ton.

Menurutnya, angka hasil produksi 1500 ton itu hanya didapat dari 34 hektar lahan tambak yang digunakan saja. “Karena total luas tambak yang kami miliki mencapai 116 hektar,” jelasnya. Pengurangan penggunaan lahan tambak ini menurutnya untuk menyiasati minimnya penyerapan hasil produksi di pasar.

Pada Senin 5 Oktober 2020 dalam Rapat Terbatas dengan jajaran kabinetnya, Presiden Joko Widodo menyinggung minimnya penyerapan garam rakyat. Dari total hasil produksi tahun 2019 yang mencapai 2,3 juta ton, Jokowi menyebut masih ada stok 738 ribu ton yang belum terserap.

Jokowi juga menyinggung alasan rendahnya kualitas hasil produksi garam rakyat yang belum juga memenuhi standar industri. Kelompok iundustri memang memiliki standar khusus tentang garam. Yakni harus memiliki kandungan NaCL di atas 90 persen. “Hasil produksi garam rakyat kita belum bisa memenuhi standar tersebut,” jelas Jokowi.

“Tapi juga bukan berarti solusinya hanya dengan impor terus,” sindirnya. Sejak tahun 2014 Indonesia memang membuka impor garam. Kuotanya mulai dari 2,3 juta ton hingga 2,9 juta ton di tahun ini. “Saya ingin ada solusi nyata untuk masalah ini.”

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro dalam kesempatan yang sama menjelaskan bahwa pihaknya tengah membangun pabrik garam terintegrasi untuk mengurangi ketergantungan impor garam.

Pabrik garam yang dimaksud adalah pabrik garam yang terintegrasi langsung dengan lahannya sehingga akan memudahkan para petani garam rakyatnya yang garamnya masih memiliki kandungan natrium korida (NaCl) masih di bawah 90 persen kepada pabrik.

“Pabrik tersebut yang akan meningkatkan kualitas dari garam rakyat tersebut menjadi garam industri dengan NaCl di atas 97 persen,” tandasnya. Untuk satu pabrik garam, kata Bambang, membutuhkan investasi Rp 40 miliar.

Saat ini, sudah ada satu pabrik garam industri terintegrasi yang selesai dan sudah beroperasi di Gresik. Sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), jumlah pabrik garam industri terintegrasi akan ditambah dua lagi pada tahun depan.

“Tentunya akan bertambah lagi. Kami optimistis dengan penggunaan teknologi, dan investasi per pabrik sekitar Rp 40 miliar, kita nantinya bisa substitusi garam impor dan mandiri untuk kebutuhan garam aneka pangan atau pertambangan,” kata Bambang dalam jumpa pers secara virtual seusai menghadiri ratas tentang percepatan penyerapan garam rakyat bersama Presiden Jokowi, Senin (5/10/2020).

 

 

Article Link: http://samudranesia.id/harga-sudah-bagus-petani-garam-sulit-jual-hasil-panen/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published