Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

Gaji Tak Dibayar, 8 ABK Indonesia di Taiwan Minta Pulang ke Tanah Air

ABK Indonesia Nakhoda kapal melayangkan pertolongan kepada Pemerintah Indonesia.

Jakarta (Samudranesia) – ABK Indonesia yang bekerja di kapal ikan asing kembali ada yang terlantar dan memohon ingin pulang ke Tanah Air. Setelah sebelumnya diketahui ada 21 ABK WNI yang bekerja di sebuah pabrik di China, setelah sebelumnya diterlantarkan oleh pihak perusahaan.

Kini ada 8 ABK yang mengalami hal serupa di Taiwan. Mereka meminta bantuan ke pemerintah Indonesia agar bisa segera dipulangkan ke Tanah Air. Permohonan tersebut disampaikan oleh perwakilan mereka melalui sebuah video pendek, yang ditujukan kepada Presiden RI Joko Widodo.

Dalam video pendek yang berdurasi 1 menit 21 detik itu, dijelaskan bahwa para pelaut sejak bekerja di atas kapal MV. Shun Da di wilayah Kaohsiung, Taiwan, pembayaran gajinya selalu terlambat.

Selain gaji yang selalu terlambat dibayar, mereka juga mengeluhkan jika sejak Juli 2020 hingga video tersebut dibuat belum dibayar.

“Sejak bulan Januari 2020 saya sudah notice (memberitahukan), bahwa saya minta pulang, karena sakit (ginjal) dan mata saya juga sudah rabun. Jadi mohon belas kasihan,” ujar George Suitela (58), selaku Nakhoda kapal, dikutip dari video, Rabu (23/9/2020).

Pria asal Ambon, Maluku itu meminta kepada pemerintah Indonesia untuk membantu mereka. Mereka juga sudah melakukan berbagai cara untuk bisa pulang ke Tanah Air termasuk meminta bantuan kepada Pemerintah Taiwan.

Berdasarkan informasi yang diterima redaksi dari Pergerakan Pelaut Indonesia (PPI), diperoleh keterangan bahwa kasus tersebut sudah terjadi sejak bulan Mei 2020 dan telah dilaporkan ke Kamar Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taiwan. Bahkan hal tersebut juga sudah dilaporkan ke Kementerian Tenaga Kerja Taiwan.

“Waktu itu (Mei), logistik kapal sempat habis. Kami ngadu ke KDEI Taipei, lalu logistik dikirim dan gaji kami dibayar untuk satu bulan oleh perusahaan. Sedangkan aduan kami ke Kementerian Tenaga Kerja Taiwan, tidak mendapatkan hasil,” ungkap salah seorang ABK.

Sejak Juli 2020 sampai detik ini gaji tidak dibayar dan update penanganan dari KDEI di Taiwan, pihaknya hanya disuruh menunggu. Namun kejelasan soal gaji mereka belum juga tampak.

“Hak gaji kami (8 orang) yang belum dibayar, terhitung sejak Juli 2020 sampai dengan September ini kurang lebih sebesar USD 30 ribu. Gaji para crew variatif sesuai jabatan, dari yang terendah USD 550/bulan hingga tertinggi USD 2.300/bulan,” ucapnya.

Para crew, saat ini tengah bermusyawarah untuk menentukan salah satu perwakilan keluarganya yang terdekat untuk membuat pengaduan secara langsung ke pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Luar Negeri, Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Perhubungan, dan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia.

“Saat ini kami lagi musyawarah, nanti akan ada wakil keluarga dengan didampingi organisasi pelaut untuk membuat aduan resmi ke pemerintah Indonesia agar kami dapat segera dibayarkan semua gajinya dan dipulangkan ke Tanah Air,” pungkasnya.

Mereka menuntut kehadiran negara untuk memperhatikan nasib mereka yang terlunta saat ini. Dengan membuat video pendek tersebut, diharapkan informasi ini sampai ke Presiden Jokowi. (Tyo)

 

 

Article Link: http://samudranesia.id/gaji-tak-dibayar-8-abk-indonesia-di-taiwan-minta-pulang-ke-tanah-air/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published