Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

Eksportir Lobster terus Burjuang di Tengah Badai Permen KP 56/2016 dan Wabah Corona

Ilustrasi Foto: Istimewa

Jakarta (Samudranesia) – Keluarnya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) No.56/2016 tentang Larangan Penangkapan atau Pengeluaran Lobster, Kepiting dan Rajungan dari Wilayah Negara Republik Indonesia berdampak besar bagi para eksportir lobster.

Kendati tidak mengekspor barang yang dilarang dalam Permen KP tersebut, namun para pengekspor lobster turut terkena imbasnya.

Misalnya seperti yang terjadi pada Upi Apriyani, perempuan yang sudah menggeluti usaha ekspor lobster selama 27 tahun ini menuturkan tentang kerugian yang dialaminya akibat adanya Permen KP itu.

“Dengan adanya Permen KP 56, BKIPM harus memeriksa barang yang akan saya kirim, itu membuat treatment yang sudah saya lakukan rusak. Kematian di tempat tujuan jadi besar, bisnis jadi kurang menguntungkan,” ungkap Upi kepada Samudranesia, Senin (24/2).

Maka dari itu, saat adanya dialog antara Komisi Pemangku-Kepentingan dan Konsultasi Publik Kementerian kelautan dan Perikanan (KP2-KKP) dengan para pelaku usaha lobster, Upi dengan lantang menyatakan minta Permen ini segera direvisi.

Baca Juga:

Sebagai eksportir, Upi tentu turut membina para nelayan lobster yang menjadi mitranya. Nelayan lobster binaannya itu tersebar di beberapa daerah di Indonesia.

Terkait informasi banyaknya nelayan yang kedapatan menangkap benih lobster ditangkap oleh petugas, dia tidak tahu menahu soal itu. Upi hanya membeli dari nelayan untuk ukuran yang sesuai dengan peraturan.   

“Saya ndak tahu kalau dari sisi nelayan (soal pidana benih lobster), karena saya kan eksportir saya terima barang di Jakarta sesuai regulasi pemerintah,” ungkapnya.

Terlepas dengan adanya Permen KP 56 itu, dia bersama para eksportir lainnya dari Indonesia harus bersaing ekstra dengan pengekspor lobster dari Vietnam. Dirinya mengakui bahwa pasar kita masih kalah dengan Vietnam.

Saat ini Upi juga belum berfikir soal ekspor lobster hasil budidaya. Menurutnya, lobster hasil tangkapan di alam lebih memiliki ketahanan ketimbang budidaya.

“Selama ini kita belum terima dari budidaya, karena kebanyakan kalau dari budidaya barang kita di-reject. Nah kalau tangkap itu ketahanan barangnya lebih bagus,” bebernya.

Belum selesai dengan masalah Permen KP 56, Upi kembali didera badai yang lebih besar. Hal ini terkait mewabahnya virus Corona di Wuhan, China. Selama ini banyak pengiriman lobsternya ke China, Hongkong dan Taiwan.

“Pesawat yang direct ke China tinggal satu maskapai, membuat kita juga berpikir ulang untuk kirim barang, tidak ada gabungan, cost jadi mahal. Banyak pengumpul dan eksportir rugi besar-besaran karena Corona,” keluhnya.

Jika diprosentasekan, Upi menyebut saat ini pengirimannya ke luar negeri khususnya ke China tinggal 2 persen dari 100 persen. Akibatnya kerugian para eksportir itu pun berdampak kepada nelayan.

“Ekspor ke China jadi tinggal 2 persen dari biasa kami ekspor, harga anjlok membuat nelayan tidak tertarik menangkap komoditi yang kita geluti, karena jarang bisa kirim,” tegas dia.

Biasanya pengiriman rutin yang bisa dilakukan olehnya hanya 5 bulan, mengingat lobster merupakan komoditi musiman yang belum tentu setiap saat bisa ditangkap oleh nelayan.

“Lobster kan musiman, paling bisa kirim rutin cuma 5 bulan, selebihnya gabut, alias ndak ada kerjaan karena barangnya ndak ada,” tandasnya.

Untuk saat ini ekspor lobster ke negara-negara selain China masih tetap berjalan. Para eksportir pun optimis kondisi ini akan cepat berlalu. (Tyo)

 

Article Link : http://samudranesia.id/eksportir-lobster-terus-burjuang-di-tengah-badai-permen-kp-56-2016-dan-wabah-corona/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published