Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

Djakarta Lloyd dan Tol Laut

KM Kendhaga Nusantara 10. Foto: Hubla.

Oleh: DR Dayan Hakim*

“Djakarta Lloyd masih ada?” pertanyaan dari beberapa pejabat Pemda di Indonesia Timur ketika peresmian Tol Laut di daerahnya. “Semoga Djakarta Lloyd dapat memberi berkah untuk perekonomian di daerah kami,” demikian harapan yang diungkap mereka.

Pada bulan Oktober 2010, Djakarta Lloyd berhenti beroperasi. 1200 karyawan di PHK 1.800 pensiunan dihentikan pembayarannya. Semenjak itu, 9 kapal Caraka Niaga kapasitas 208 teuss dan 5 kapal Palwobuwono kapasitas 1600 teuss serta asset bangunan lainnya satupersatu disita oleh kreditur. Padahal Djakarta Lloyd yang telah berdiri sejak tahun 1951 adalah kebanggaan Maritim Nusantara.

Pada bulan Desember 2014, Djakarta Lloyd lolos dari PKPU dan Perjanjian Homologasi diterima oleh kreditur yang bersedia dibayar selama 13 tahun dengan masa tenggang 5 tahun. Semenjak itu dilakukan program restrukturisasi Djakarta Lloyd. Pemerintah memberikan tambahan PMN berupa BPYBDS senilai Rp675 milyar, SLA senilai Rp379 milyar dan dana tunai senilai Rp350 milyar. Pemerintah juga mereskedul utang RDI senilai Rp171 milyar selama 40 tahun dan menghapuskan utang pajak senilai Rp136 milyar melalui tax amnesty.

Selnjutnya, Djakarta Lloyd diberi kontrak angkutan batubara selama 15 tahun dari PLN. Saat ini Djakarta Lloyd dengan 2 breakbulk milik dan 4 breakbulk TC kapasitas 50.000 DWT melayani segmen angkutan breakbulk. Bendera Djakarta Lloyd sudah berkibar kembali di perairan Nusantara.

Memenuhi program pemerintah tentang Nawacita maka sejak bulan Oktober 2018 Djakarta Lloyd diberi penugasan Tol Laut. Dibentuklah SBU Tol Laut untuk menangani angkutan regular container di Indonesia Timur. Saat ini Djakarta Lloyd menangani 5 rute tol laut yakni:

KM Kendhaga Nusantara 3 (H-2) : Tj Perak – Makassar – Bobong (Taliabu) – Luwuk – Tj Perak

KM Kendhaga Nusantara 13 (T-6) : Bitung – Luwuk – Pegimana – Bunta – Mantangisi – Ampana – Parigi (Tinombo) – Tilamuta – Bitung

KM Kendhaga Nusantara 4 (T-7) : Makassar – Selayar – Jampea – Sikeli – Raha – Eureka – Makassar

KM Kendhaga Nusantara 15 (T-8) : Makassar – Bungku – Kolondale – Makassar

KM Kendaga Nusantara 10 (T-10) : Tj Perak – Wanci – Namrole – Namlea – P Obi – Tj Perak

Penanganan tol Laut di Djakarta Lloyd amat efisien karena Djakarta Lloyd memiliki layanan terpadu yang dilaksanakan sendiri. Kegiatan layanan keagenan seperti labuh dan tambat, ditangani sendiri karena Djakarta Lloyd memiliki cabang sampai ke pelosok negeri. Layanan stevedoring dan cargodoring dilayani oleh anak perusahaannya PT Dharma Lautan Nusantara. Sedangkan layanan storage dan hauling dilayani oleh anak perusahaannya PT DL Logistik Nusantara. Dengan demikian total handling cost menjadi lebih efisien.

Hal ini terbukti bahwa ASDP yang juga diberi penugasan tol laut menyerahkan jasa-jasa tersebut kepada Djakarta Lloyd khususnya di pelabuhan Tanjung Priok dan Makassar. Adapun 2 rute tol Laut milik ASDP yang ditangani oleh Djakarta Lloyd adalah:

KM Kendhaga Nusantara 2 (T-2) : Tj Priok – Teluk Bayur – Sinabang – Gunung Sitoli – Sikakap – Enggano – Tj Priok

KM Kendhaga Nusantara 6 (T-4) : Makassar – Polewali – Belang2 – Nunukan – Sebatik – Makassar

Hal ini sejalan dengan slogan Djakarta Lloyd untuk menjadi “one stop service logistic service provider”. Djakarta Lloyd berupaya memenuhi harapan konsumen nya dengan one bill system sehingga pemilik barang tidak perlu lagi harus repot menangani pengiriman barang ke pelabuhan terpencil sekalipun. Djakarta Lloyd sebagai perusahaan yang baru pulih dari sakit Panjang ternyata mampu bertindak efisien dan efektif. Pengelolaan aspek perpajakan yang tepat untuk masing-masing jasa layanan juga membuat Djakarta Lloyd mampu menekan Freight Cost dan Total Handling Cost.

Meskipun demikian gangguan yang dialami oleh Djakarta Lloyd dalam upaya menekan biaya logistic Tol Laut juga tidak sedikit. Gangguan pertama justru berasal dari pihak Pelindo sendiri. Pelindo mengarahkan kapal tol laut untuk masuk ke Terminal Peti Kemas dan bukan ke Terminal Konvensional sehingga dikenakan tarif alat mekanik yang tidak sedikit.

Pelindo juga memaksa untuk menggunakan anak perusahaan bongkar muat nya untuk melaksanakan bongkar muat dipelabuhannya yang dikenakan tarif komersial. Pelindo juga memaksa untuk menggunakan storage yard lini 1 yang dikenakan sewa yang cukup mahal. Hal ini mengakibatkan biaya tol laut menjadi tinggi.

Gangguan kedua berasal dari pihak tidak bertanggungjawab yang meminta berbagai macam pungutan. Namun ternyata nama besar Djakarta Lloyd sebagai bekas penguasa 7 samudera masih ditakuti pihak-pihak tersebut, walau dibeberapa tempat ada juga yang harus dilawan. Gangguan ketiga adalah dari koperasi TKBM dan pengusaha bongkar muat local yang tidak mau bekerja sama dengan Djakarta Lloyd dalam penugasan tol laut.

Namun dengan pendekatan dan negosiasi yang baik ternyata lebih mudah berhadapan dengan rakyat yang begini daripada rakyat yang begitu. Gangguan tersebut seluruhnya telah dapat diatasi oleh Djakarta Lloyd.

Sehubungan dengan hal tersebut maka Djakarta Lloyd melalui anak perusahaannya PT DL Logistik Nusantara telah siap menerima pengiriman logistic untuk 5 rute tol laut milik Djakarta Lloyd dan 2 rute tol laut milik ASDP dengan one bill system. Dengan demikian diharapkan tujuan Pemerintah untuk menekan disparitas harga barang di daerah terpencil dapat tercapai.

*Penulis adalah Praktisi Maritim

 

Article Link : http://samudranesia.id/djakarta-lloyd-dan-tol-laut/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published