Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

Deklarasi Pelaut Indonesia di Hari Kemerdekaan

Deklarasi Indonesia sebagai Bangsa Pelaut di Markas Pelaut KPI, Jakarta, Senin (17/8).

Jakarta (Samudranesia) – Dalam rangka merayakan HUT Kemerdekaan Indonesia ke-75, Pelaut KPI (Kesatuan Pelaut Indonesia) menggelar acara syukuran sekaligus deklarasi menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa pelaut di Graha Markas Yake (Yayasan Karya Enam-enam) di Jl. Raya Jatinegara Timur No. 61-65 Jakarta Timur di Jakarta, Senin (17/8).

Diawali dengan menyanyikan lagu kebnagsaan “Indonesia Raya” yang dipandu oleh sahabat pelaut HAL (Holland America Lines) Sabar Silaen dan dilanjutkan dengan mengheningkan cipta untuk jasa para pahlawan kemerdekaan oleh Penasehat Pelaut KPI Binsar Effendi.

Kemudian Ustad Drs. Abdul Rosjid membacakan teks Proklamasi 17 Agustus 1945 dan pembacaan bersama naskah Pancasila. Kemudian pelaut senior HAL Andi Muslih membacakan deklarasi “Indonesia Bangsa Pelaut Tegakkan Kedaulatan Dan Kesejahteraan Pelaut Indonesia” yang dibacakan bersama-sama dengan audiens.

Selanjutnya Capt. Dwiyono Soeyono menjelaskan terkait dicetuskannya deklarasi tersebut dalam momentum Kemerdekaan Indonesia ke-75.

“Mulai dari pendekatan historis di mana kolonial yang lebih dari tiga abad menjajah kita, baru di tahun 1949 diakui kemerdekaan negara kita oleh kolonial. Dari situlah negara kita yang merdeka memiliki kedaulatan yang penuh,” kata Capt Dwiyono.

Ia melanjutkan bahwa deklarasi ini berkaitan erat dengan masa ketika Bung Karno meresmikan Akademi Ilmu Pelayaran (AIP) di tahun 1957 yang dalam pidatonya menyatakan bangsa Indonesia sebagai bangsa pelaut.

“Itupun baru pada tataran pengakuan hidup merdekanya bagi pelaut,” jelasnya.

Namun lanjut dia, kedaulatan yang dimiliki oleh pelaut belum dirasakan. Ia mencontohkan negara Norwegia, bukan sebagai negara yang memiliki lautan yang luas, tapi sudah lama ada Universitas Maritim.

“Di Indonesia, ini masih tingkat sekolah tinggi dan akademi, tidak ada setingkat universitas yang bisa melahirkan sarjana S3 untuk ilmu maritim,” ungkapnya.

“Di sinilah letaknya Indonesia bangsa pelaut belum memiliki kedaulatan yang mampu menjadi cakrawati dunia dengan pelayaran niaga yang juga kelas dunia,” tegasnya.

Bertitik tolak dari pandangan akademis yang komprehensif dan obyektif, cukup wajar jika nasib pelaut sebagai tulang punggung kegiatan usaha pelayaran niaga masih terus dirundung duka. Sampai tingkat pengupahan bagi anak buah kapal (ABK), kabarnya belum juga ada standar pengupahannya meskipun Maritime Labour Convention (MLC) 2006 sudah diratifikasi sejak tahun 2016.

“Itu sebab muncul rumor, sertifikat IMO (International Maritime Organization) gaji Antimo,” selorohnya.

Semenetara serikat pekerja profesi pelaut yang diberikan wewenang untuk melindungi, membela hak dan kepentingan, serta mensejahterakan pelaut dan keluarganya juga seperti organisasi perusahaan.

“Ini belum jika dikaitkan dengan berbagai kasus ABK Indonesia mulai kerap jadi sandera teroris, mudah dijadikan cara-cara perbudakan dalam bekerja, gampang dilarungkan ke laut jika sudah meninggal di kapal, sampai adanya sertifikat pelaut palsu yang bisa terancam blacklist oleh IMO,” bebernya.

“Ini semua adalah potret pelaut Indonesia yang sudah merdeka tapi belum berdaulat. Maka sudah tiba saatnya di usia 75 tahun kemerdekaan Indonesia dan 53 tahun dikumandangkan bangsa Indonesia bangsa pelaut oleh Bung Karno, kita berjuang untuk tegaknya kedaulatan dan kesejahteraan bagi pelaut Indonesia,” tandasnya yang disambut tepuk tangan meriah.

Dari sahabat pelaut Shell Tankers didaulat H. Aang Yance Wattimena. Dari HAL didaulat Sabar Silaen dan Andi Muslih. Dari NCL (Norwegian Cruise Lines) didaulat Poppy Sijabat. Dari PCL (Premier Cruise Line) didaulat Budi Tasmadi. Dari eks MPA (Majelis Perwakilan Anggota) KPI, didaulat Herman Abimayu.

Kehadiran Ketua Umum SPI (Solidaritas Pelaut Indonesia) Pius L dan mewakili dari STIMAR (Sekolah Tinggi Maritim) Pulomas Capt. Baginda Panjaitan, juga didaulat untuk memberikan sambutannya.

Dan, pemberi kata sambutan itu mendukung, setuju dan siap berjuang untuk mengemban misi menyelamatkan organisasi KPI dengan mosi reformasi Pengurus Pusat (PP) KPI melalui forum Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) KPI yang demokratis dan harga mati.

Mewakili Pelaut Senior Hasoloan Siregar atau Solo, dengan tegas mengingatkan jika perjuangan ini tidak mudah, butuh waktu dan kesabaran. Hasoloan Siregar juga mengingatkan jika Presiden KPI Mathias Tambing telah melaporkan para Pelaut KPI atas pencemaran nama baik ke pihak kepolisian.

“Padahal pencemaran nama baik apanya? Sebaliknya Sonny Pattiselano yang Wakil Sekjen KPI dan diduga menilep uang organisasi KPI sekitar Rp 10 milyar yang semula dilaporkan oleh Mathias Tambing tapi dicabut, karena Sonny Pattiselano mengancam akan membuka borok-borok yang diperbuat oleh Mathias Tambing sebagai Presiden KPI, dan cukup dipecat dari jabatan kepengurusannya di KPI,” beber Hasoloan.

“Ini kan paradoks. Kita kritik lewat medsos justru melalui oknum pengacaranya melaporkan pencemaran nama baik Mathias Tambing, tapi yang korupsi dibiarkan tidak dipolisikan. Itu saja. Maka kita dituntut harus waspada dan kita jangan lengah serta jangan mudah dipecah belah, apalagi mau saja diadu domba. Saya, Bung Teddy Syamsuri dan Pak Binsar Effendi sudah lelah dan tidak punya kepentingan apapun,” pungkasnya. (Tyo)

 

 

Article Link: http://samudranesia.id/deklarasi-pelaut-indonesia-di-hari-kemerdeka/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published