Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

BJ Habibie, Konseptor Benua Maritim Indonesia

Mnristek BJ Habibie (kanan) saat menerima Menhan Australia. Foto: ANTARA.

Jakarta (Samudranesia) – Rabu Rabu (11/09/2019) pukul 18.05 di RSPAD Gatot Subroto, Presiden RI Ketiga Bacharuddin Jusuf Habibie menghembuskan nafas terakhirnya. Pria kelahiran Pare-Pare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 ini merupakan salah satu putra terbaik bangsa dengan karya-karyanya yang mendunia.

Meraih gelar doctor ingenieur-nya pada 1965 di Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachea, Jerman, Habibie kemudian berkarier sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis Struktur Pesawat Terbang perusahaan Penerbangan Messerschmitt-Bolkow-Blohm (MBB).

Pepatah mengatakan “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan nama”. 83 tahun usia Habibie di dunia telah menorehkan segudang prestasi yang mengukir namanya.

Habibie muda sudah berfikir mengenai pentingnya industri pesawat terbang nasional untuk memenuhi kebutuhan distribusi barang dan jasa antar pulau di kepualauan Indonesia.

Geografis Indonesia yang berupa kepulauan dianggapnya sebagai benua maritim yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Maka dari itu perlu ditopang oleh industri transportasi nasional yang mendukung yakni pesawat terbang dan kapal laut.

Ketika sedang mengembangkan Airbus 300 di Jerman, Habibie diminta pulang ke Indonesia untuk mengembangkan industri strategis dalam negeri. Setelah itulah, Habibie langsung mengembangkan N 250. Dari situlah awal merealisasikan gagaannya dalam membangun industri penerbangan nasional sebagai penopang benua maritim.

Hingga akhirnya Presiden Soeharto mengangkatnya sebagai Menristek pada tahun 1978. Selama 20 tahun menjabat pos ini, gagasan dan karya Habibie semakin mengemuka. Tahun 1974, Habibie mendirikan divisi Advanced Technology dan Teknologi Penerbangan di Pertamina yang kemudian berkembang menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio (cikal bakal PT IPTN dan PT DI) pada tahun 1976 dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi tahun 1978.

Perlahan tapi pasti, pemerintah menata strategi penguasaan teknologi dan pembangunan industri dengan membentuk Tim Pengembangan Industri Hankam tahun 1980 dan dilanjutkan dengan Tim Pelaksana Pengembangan Industri Strategis (TPPIS) tahun 1983. Hasil kajian TPPIS menghasilkan pembentukan BPIS tahun 1989. BPIS menjadi tonggak awal proses industrialisasi strategis yang modern di Indonesia.

Pada tahun 1989 dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden No. 44 tahun 1989 tentang Badan Pengelola Industri Strategis maka sepuluh industri dinamakan BUMN Industri Strategis dengan tujuan pemerintah ingin membangun dan mengembangkan industri pertahanan dan kemandirian Pertahanan dan Keamanan (HANKAM). Lembaga Pemerintah Non Departemen BPIS ini diketuai langsung oleh Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi yaitu B.J Habibie sendiri.

BPIS ditugaskan untuk membina, mengelola dan mengembangkan sepuluh Industri Strategis tersebut, di antaranya PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara, PT. PAL Indonesia; PT. PINDAD; Perum Dahana; PT. Krakatau Steel; PT. BARATA INDONESIA; PT. Boma Bisma Indra; PT. Industri Kereta Api; PT. Industri Telekomunikasi Indonesia; dan Unit Produksi Lembaga Elektronika Nasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Buah dari BPIS, pada 10 Agustus 1995 terdapat hari bersejarah yaitu penerbangan perdana pesawat N-250 PA-1 dengan sandi “Gatotkaca” buatan IPTN di Bandung. Pesawat tersebut terbang selama 55 menit dengan 50 penumpang. Saat itu, event bersejarah tersebut membanggakan masyarakat sebagai prestasi putra-putri bangsa. Sehingga dalam rangka menumbuhkan sikap dan kehendak untuk mengembangkan dan menghargai pretasi yang lebih tinggi di bidang teknologi, Presiden Soeharto menerbitkan Keppres 71 1995 tanggal 6 Oktober 1995 yang menyatakan setiap tanggal 10 Agustus diperingati sebagai “Hari Kebangkitan Teknologi Nasional”. Peringatan tersebut masih diperingati sampai sekarang.

Benua Maritim Indonesia

Ketika perangkat teknologi berhasil dikembangkan, sejalan dengan dengan gagasan yang mendunia dalam mewujudkan kerangka Wawasan Nusantara, konsep Benua Maritim Indonesia (BMI) dideklarasikan Presiden Seoharto dalam Konvensi Nasional Benua Maritim Indonesia pada 18-19 Desember 1996 di kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Konsep ini meneruskan Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957, Wawasan Nusantara tahun 1964, dan UNCLOS 1982. Habibie pun terlibat sebagai deklarator bersama Menko Polkam Susilo Sudarman. Gagasannya sewaktu muda, saat itu semakin terealisasi.

Doktrin ini dikedepankan dalam kerangka mengelola dan membangun konsep berbasiskan kelautan. BMI merupakan lebensraum bangsa Indonesia, dalam artian lautan Indonesia bukan hanya tempat ikan dan terumbu karang saja, atau sesuatu yang enak dipandang, melainkan ruang hidup, ruang gerak, dan ruang untuk bernafas.

Bangsa Indonesia harus “hidup dari dan dengan Laut”. Inilah doktrin kelautan Indonesia saat itu. Secara konkrit, ini berarti bahwa lautan itu merupakan: (i) sumber nafkah (sumber protein dan sumber energi); (ii) sumber kesempatan kerja; (iii) sumber pengembangan kekuatan ekonomi; (iv) sumber pengembangan sains dan teknologi; (v) sumber atau lahan untuk mengatur siasat dan seni pertahanan; (vi) unsur pemersatu; dan (vii) sumber inspirasi bagi seniman, ilmuwan, negarawan, dan pemikir (Zen, 2000).

Jauh sebelum ada Poros Maritim Dunia, gagasan BMI sudah mengemuka kala itu yang tujuan akrhinya Indonesia menjadi negara maritim yang besar, disegani dan mandiri-lepas landas. Gagasan ini terhenti ketika Reformasi 1998. Habibie pun yang saat itu menjadi Wapres dan kemudian sebagai Presiden RI menggantikan Soeharto tak banyak bicara soal konsep ini karena fokus membenahi stabilitas ekonomi dan politik dalam negeri.

Gagasan itupun tinggal kenangan hingga saat ini, namun tak ada salahnya jika pemerintah sekarang dengan konsep Poros Maritim Dunia-nya mangadopsi yang positif dari keluhuran gagasan ini. Sang konseptornya pun kini telah menghadap Tuhan YME, namun pemikirannya tetap hidup dalam akhir zaman. Selamat Jalan Pak Habibie!  (Tyo)

 

Article Link : http://samudranesia.id/bj-habibie-konseptor-benua-maritim-indonesia/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published