Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

Armada RI, 60 Tahun Menjadi Tulang Punggung Pertahanan Maritim

Kekuatan Armada RI. Foto: Net

Menyambut Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957 dan meningkatnya eskalasi konflik antara Indonesia dengan Belanda terkait Irian Barat, Kasal Laksdya TNI RE Martadinata mengeluarkan Skep Kasal Nomor: A.4/2/10, tanggal 14 September 1959. Surat Keputusan itu menandai berdirinya Komando Armada RI yang kemudian baru diresmikan pada 5 Desember 1959.

Pemimpin Besar Revolusi sekaligus Panglima Tertinggi ABRI, Bung Karno sendiri yang meresmikan beridirinya Komando Armada RI tersebut di Dermaga Ujung, Surabaya. Tak hanya sebatas untuk merebut Irian Barat, adanya Komando Armada ini melengkapi instrumen pembangunan RI sebagai negara maritim.

Begitulah cita-cita Bung Karno dalam rangka mengisi kemerdekaan Indonesia. Terinspirasi dari perjalanan sejarah dua kerajaan besar Nusantara yakni Sriwijaya dan Majapahit yang berorientasi kepada maritim, Bung Karno ingin mengulang kejayaan itu dengan menjadikan Indonesia sebagai negara maritim yang besar.

Indonesia baru memiliki Komando Armada sebagai Komando Utama (Kotama) setelah 14 tahun merdeka. Memang tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu. Beberapa kapal perang eks KNIL dan kapal perang baru dari Uni Soviet langsung mengisi kekuatan Armada RI kala itu

Keberadaan armada perang yang kuat menjadi hal pokok dalam upaya pertahanan negara di laut. Teori tersebut sudah dikemukakan oleh para pakar militer dan maritim dunia.  AT Mahan dalam buku The Influence of Sea Power Upon History, 1660-1783” (1890), armada tempur merupakan bagian dari kekuatan nasional (national power) dalam tinjauan sea power untuk menghadapi musuh.

Apa yang dimaksud dengan Sea Power atau Kekuatan Laut, pada dasarnya identik dengan  Kekuatan Maritim atau Maritime Power.  Apabila kekuatan-kekuatan itu diberdayakan, maka akan meningkatkan kesejahteraan dan leamanan negara. 

Di samping hal tersebut, Mahanmenyatakan bahwa keunggulan Angkatan Laut  adalah keperluan utama untuk menjadikan negara besar, kuat dan maju. Pelaku operasi pertahanan negara di laut  terdiri dari beberapa instansi dengan AL sebagai inti kekuatan.

Kekuatan laut terdiri dari Armada Niaga, Angkatan Laut dan Pangkalan. Selain dari pada itu laut adalah satu kesatuan (The Sea is all One), artinya bahwa laut tidak dapat dipagari, diduduki dan dipertahankan seperti daratan. Sehingga strategi maritim merupakan penguasaan di laut, yaitu dengan menjamin penggunaan laut untuk kepentingan sendiri serta menutup peluang bagi lawan untuk menggunakannya.

Mahan mengikuti pendekatan Baron Antoine de Jomini yang menekankan pentingnya lines of communication, konsentrasi kekuatan, dan daya serang untuk menghancurkan kekuatan armada musuh.

Sedangkan pakar maritim lainnya, Sir Julian Corbett dalam bukunya buku “Some Principles of Maritime Strategy” (1911) menyebutkan teori keangkatanlautan lebih dari satu level. Pemikirannya lebih banyak meminjam pendekatan strategi yang diutarakan oleh Carl Von Clausewitz.

Pertama, Corbett menerangkan tentang teori perangnya. Siapapun yang mengenal Clausewitz tentunya akan mengetahui betapa besar pengaruh Clausewitz terhadap pemikiran Corbett pada level ini. Kedua, Corbett meletakkan teorinya tentang perang keangkatanlautan (naval warfare) dan prinsip-prinsip dari strategi maritim (maritime strategy).

Corbett, seperti halnya Clausewitz, mempercayai bahwa prinsip-prinsip tersebut tentunya dapat membantu dan mempengaruhi pemikiran para pemimpin dan meningkatkan penilainan mereka. Ketiga, Corbett menilai bahwa bagian dari operasi keangkatanlautan (naval operations) berperan utama dalam memperebutkan dan mencapai “command of the sea”, kemudian memanfaatkan pencapaian tersebut.

Ide-ide yang dikembangkan Corbett,  antara lain berkaitan dengan azas pertamanya tentang strategi maritim yang berkaitan dengan tujuan perang laut dan hasil yang diharapkan.  Semuanya mengarah kepada upaya untuk menjamin kepentingan vital pihak sendiri.   

Corbett menekankan bahwa teori perang diperlukan sebagai pemersatu kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh negara, baik di darat maupun di laut.  Hal ini juga tercantum dalam “Art of War“,  bahwa ilmu perang harus selalu dipelajari karena menyangkut jatuh dan bangunnya negara.  Keberhasilan perang juga sangat ditentukan oleh kondisi hubungan antara penguasa dan rakyatnya,  serta antara pimpinan pasukan dengan bawahannya.

War is a matter of vital importance to the state;   the province of life or death;   the road to survival or ruin.   It is mandatory that is be thoroughly studied“  (Sun Tzu,  500 BC). 

Corbett memperluas strategi maritim antara lain  dengan penjelasannya tentang kekhasan dari perang laut,  hubungan antara penguasaan laut dan pengendalian laut,  serta pembagian jenis-jenis pengendalian laut berdasarkan kategori/situasi dan kondisinya.  

Subyek Corbett adalah peranan laut dalam strategi, bukan bagaimana AL menang perang sendirian. Menurut Corbett, Ada tiga fungsi armada, yaitu: mendukung atau menghalangi diplomasi, mempertahankan atau merusakkan perdagangan, dan mendukung atau menghalangi Operasi di Laut.

Sedangkan tujuan dari perang laut adalah Commad of the Sea dalam bentuk pengendalian laut (sea control), dengan metode:

  1. Mengamankan penguasaan (securing command).
  2. Pertempuran yang menentukan (decisive battle)
  3. Blokade laut
  4. Mempertikaikan penguasaan (disputing command).
  5. Armada siaga (fleet in being)
  6. Serangan balas (minor counter attack).
  7. Menggunakan penguasaan (exercising command).
  8. Pertahanan melawan invasi (defence against invansion).
  9. Penyerangan dan perlindungan kapal dagang (attack dan defence of commerce)
  10. Penyerangan, pertahanan, dan bantuan ekpedisi militer (attack, defence, and support of military).

Gagasan dari Mahan dan Corbett itu juga diperkuat oleh Sir Herbert Richmond dalam buku  “Economy and Naval Security (1931). Dalam buku tersebut, Richmond berpendapat bahwa elemen-elemen Kekuatan Maritim yang penting ada tiga, yaitu: Armada Niaga, Armada Tempur, dan Pangkalan di Seberang Lautan.

Teori-teori di atas turut menginspirasi Bung Karno untuk memiliki armada laut yang kuat di era Demokrasi Terpimpin. Tentunya jika teori-teori tersebut sejatinya ditujukan untuk memperkuat ekspansionisme dalam bingkai kolonialisme dan imperialisme, namun Bung Karno lebih menggunakannya untuk kepentingan nasional yang didasari dari Pancasila dan UUD 1945.

Konstelasi Kawasan yang mulai panas saat itu dengan adanya sikap Belanda yang tidak ingin melepas Irian Barat, ditambah dengan hegemoni Blok Barat dan Blok Timur di Asia Tenggara, membuat pertahanan negara Indonesia yang bercorak kepulauan perlu diperkuat dengan armada militer yang mumpuni.

Kolonel Laut OB Sjaaf saat itu ditunjuk sebagai Panglima Armada oleh Kasal dengan sejumlah tugas berat terkait pengembangan organisasi. Komando ini yang nantinya membawahi Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) di berbagai wilayah NKRI.

Misi Armada RI dalam operasi pembebasan Irian Barat terbilang sukses. Irian Barat resmi kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi pada 1 Mei 1963. Armada RI pun menjelma menjadi kekuatan laut dunia yang disegani di kawasan. Bukan hanya sebagai perekat Nusantara, kekuatan ini juga mampu mengamankan perairan yurisdiksi Indonesia yang berimplikasi pada tingkat kesejahteraan rakyat.

Pengembangan Organisasi

Seiring dengan dinamika kebutuhan dan ancaman yang terjadi, Armada RI yang tadinya berpusat di Surabaya, pada 30 Maret 1985 dipecah menjadi Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) yang berpusat di Jakarta dan Komando RI Kawasan Timur (Koarmatim) yang berpusat di Surabaya. Hal itu berdasarkan Surat Keputusan Panglima ABRI Nomor: Kep.171/II/1985 tanggal 30 Maret 1985

Mengingat lokasinya yang strategis, yakni di Ibukota NKRI (Jakarta-red), Koarmabar memainkan peranan penting dalam menjaga Laut Indonesia wilayah barat yang terbentang dari Laut Andaman hingga Laut Jawa. Selain itu juga meliputi Samudra Hindia yang membentang dari pesisir barat Sumatera dan pesisir selatan Jawa bagian barat serta Laut Natuna Utara.

Sedangkan Koarmatim yang terdapat ALKI II dan III serta berbatasan dengan perairan Australia, Filipina, Timor Leste, Papua Nugini dan Malaysia juga memegang peranan penting dalam mengendalikan kawasan pasifik.

Memasuki abad 21 saat ini di mana dinamika ancaman semakin kompleks di tengah visi Presiden Joko Widodo (Jokowi) mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, Komando Armada RI pun dikembangkan menjadi tiga berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2010 dan Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2016. Maka pada tanggal 11 Mei 2018,ditetapkan berdirinya organisasi baru, yaitu Komando Armada III (Koarmada-III) yang berpusat di Sorong, sekaligus pergantian nama satuan TNI yaitu Komando Armada RI Wilayah Barat (Koarmabar) menjadi Koarmada-I dan Komando Armada RI Wilayah Timur (Koarmatim) menjadi Koarmada-II.

Keberadaan tiga armada saat ini tentu menjadi sebuah harapan bagi bangsa Indonesia untuk menjaga kedaulatannya di laut sekaligus sebagai penopang negara maritim yang besar dan digdaya. 60 tahun Armada RI menjadi tulang punggung pertahanan maritim tentu memiliki kekuatan yang semakin berkembang dan profesional dalam menjalankan tugas pokoknya. Jaya dan Maju terus Armada RI….! Jalesveva Jayamahe.

 

Article Link : http://samudranesia.id/armada-ri-60-tahun-menjadi-tulang-punggung-pertahanan-maritim/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published