Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

Akuakultur Rugi Hingga 6 Miliar Dolar Akibat Penyakit

Dok Foto: KKP

Jakarta (Samudranesia)-Industri akuakultur mengalami kerugian hingga 6 miliar USD per tahun akibat serangan penyakit. Hal ini dipaparkan oleh Prof. Widanarni dalam Webinar Series Aquafest 2020. Serangan penyakit, tambahnya, juga telah menurunkan angka produksi hingga 40 persen.

Menurutnya, umtuk mengatasi hal tersebut perlu adanya transformasi di sektor akuakultur. Salah satunya, kata Widanarni, adalah dengan memanfaatkan mikroba sebagai biokontrol patogen dan stimulan sistem imunitas, serta promotor pertumbuhan dan untuk memperbaiki kualitas lingkungan budidaya.

“Jika dikaitkan dengan situasi saat ini, di mana pandemi Covid-19 masih tinggi di Indonesia maupun dunia, yang disebabkan oleh makhluk yang berukuran nanometer tetapi sudah mampu mengguncang dunia, sehingga kita harus pahami keberadaan dan peran mikroba meskipun tidak dapat dilihat dengan kasat mata namun perannya begitu besar,” jelasnya. “Seperti pemanfaatan probiotik yakni mikroba hidup yang ditambahkan dan memberikan pengaruh menguntungkan bagi inangnya dengan memodifikasi komunitas mikroba, sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen seperti Vibrio sp., memperbaiki nilai nutrisi pakan, memperbaiki kualitas  lingkungan dan meningkatkan respon imun”, jelas Prof Widanarni.

Sementara itu, menurut Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto, transformasi akuakultur mutlak dilakukan untuk menghadapi pandemic Covid-19. “Paradigma baru harus terus kita bangun dalam rangka menghadapi transformasi akuakultur di era disruptif ini, era dimana perubahan fundamental yang sangat cepat dalam merubah pola tatanan lama, melalui industrialisasi perikanan budidaya yang efisien, bermutu dan berkelanjutan”, jelas Slamet.

Strategi yang dilakukan KKP, menurutnya, mulai dengan inovasi teknologi produksi untuk mendorong peningkatan produksi seperti revitalisasi tambak udang/bandeng dan model kluster sentra usaha; modernisasi dan digitalisasi dalam sistem produksi dan mendorong rantai pasok industri perikanan budidaya; pengembangan komoditas unggulan bernilai ekonomis tinggi yang berorientasi pemenuhan kebutuhan pasar domestik dan ekspor dengan penerapan sistem jaminan mutu produk melalui sertifikasi, standardisasi dan traceability serta mendorong keberlanjutan ekonomi, sosial dan lingkungan dan juga integrasi hulu dan hilir serta sinergitas lintas sektor.

“Kita bangun kawasan kawasan perikanan budidaya berbasis pada teknologi yang sesuai dengan asas-asas keberlanjutan, bukan hanya lingkungannya saja tetapi juga usahanya harus berlanjut, keberlanjutan sosial ekonominya juga harus berlanjut”, ujar Slamet.

Perikanan budidaya, katanya, juga memanfaatkan teknologi 4.0 melalui automatisasi sistem produksi dan inovasi digitalisasi dalam bisnis perikanan sehingga rantai pasok semakin efisien dan keuntungan pembudidaya meningkat.

“Saya memberikan apresiasi kepada inovasi digital dalam bentuk startup bidang perikanan yang telah berjalan sebagai bentuk implementasi penerapan teknologi, dan berharap dapat terus berkembang dari segi pemanfaatan dan ditingkatkan di berbagai level di era pandemi ini”, ujar Slamet.

 

 

Article Link: http://samudranesia.id/akuakultur-rugi-6-miliar-dolar-akibat-penyakit/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published