Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

ABK Indonesia Dilarung, Serikat Nelayan NU Makin ‘Berang’ dengan China

Ketua SNNU, Witjaksono (kanan).

Jakarta (Samudranesia) – Adanya kasus perbudakan ABK Indonesia di kapal Ikan Longxing 629 milik China dan pelarungan 3 orang ABK WNI telah mencabik-cabik harkat dan martabat bangsa Indonesia menambah panas hati bangsa Indonesia atas ulah sang kapten kapal tersebut.

Kematian 3 awak kapal WNI saat kapal sedang berlayar di Samudera Pasifik yang sedang viral di media sosial itu telah dikonfirmasi oleh Kementerian Luar Negeri RI.

Terkait hal itu, Ketua Pengurus Pusat (PP) Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama (SNNU) Witjaksono menyatakan kesedihan yang mendalam atas tragedi pembuangan (pelarungan) yang menimpa WNI di kapal tersebut.

“Kesedihan yang mendalam dan rasa bela sungkawa kami sampaikan kepada keluarga yang bersangkutan. Di bulan suci Ramadhan dan ketika saudara kita merayakan hari Raya Waisak tentu kabar seperti ini sangat menyayat hati. 1 WNI terluka, maka seluruh bangsa terluka,” ujar Witjak biasa disapa dalam keterangannya, Jumat (8/5).

Sebagai organisasi yang menjadi badan otonom NU, maka Serikat Nelayan NU mengutuk keras insiden pembuangan WNI ini.

“Atas nama Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama dan Bangsa Indonesia kami mengutuk keras tindakan kapal-kapal China itu. Pelarungan Jenazah WNI di laut itu adalah tindakan keji, tidak manusiawi dan benar-benar menunjukkan perilaku manusia yang jauh dari peradaban. Sangat tidak beradab!” tegasnya.

Serikat Nelayan NU tidak hanya mengutuk keras, namun juga menyatakan perlunya tindakan lebih lanjut. Ia meminta agar China dan perusahaan terkait harus bertanggung jawab sebagai keharusan.

“Namun lebih dari itu semua, pemerintah Indonesia mutlak perlu bertindak lebih. Saya mohon kepada Pemerintah Republik Indonesia untuk bertindak tegas. Pekerja China kita manjakan, bahkan diperbolehkan masuk di tengah pandemi yang berasal dari negaranya. Namun sekarang lihat perlakukan mereka terhadap pekerja kita,” ungkapnya.

Pria asal Pati, Jawa Tengah itu menilai pemerintah jangan hanya sebatas memanggil Dubes China di Jakarta, melainkan perlu evaluasi BNP2TKI, BP2MI, Kementerian Tenaga Kerja dan Kementerian Luar Negeri (Imigrasi).

“Bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Jangan sampai Pemerintah bertindak toleran lagi dan lagi, ini tidak bisa ditolelir,” tegas dia lagi.

Penulis Buku ‘Reborn Maritim Indonesia’ itu memperlihatkan kepedulian yang mendalam atas tragedi ini. Menurutnya, Indonesia adalah negara maritim, luas laut dan pantai kita adalah yang terluas di dunia, letaknya strategis dan kaya sekali lautnya.

Namun sambung dia, mengapa bisa ada WNI yang jadi TKI bahkan diperlakukan seperti budak, sungguh miris sekali.

“Kementerian Kelautan dan Perikanan saya anggap gagal hingga hari ini karena tidak mampu memakmurkan masyarakat Indonesia terutama masyarakat pesisir di tengah kekayaan melimpah yang diberikan Allah SWT kepada Indonesia,” sesalnya.

Lebih lanjut, Serikat Nelayan NU menghimbau kepada Pemerintah untuk melarang masuknya kapal China di Indonesia. Dengan China, menurutnya sudah tidak perlu ada lagi kompromi.

“Ketika awal virus Corona (Covid-19) merebak dan Pemerintah China melakukan pelarangan berpergian di dalam negeri. Indonesia bahkan masih menerima tenaga kerja China. Hari ini, kami mendesak Pemerintah, terutama Menteri KKP untuk melarang secara total masuknya kapal-kapal China ke Indonesia,” imbuhnya.

“Bersinergi dengan TNI, siapkan kapal-kapal terbaik kita untuk menjaga di perbatasan, jika diperlukan harus tembak di tempat dan tenggelamkan kapal-kapal China terutama yang mau mencuri ikan di wilayah kedaulatan NKRI,” tandasnya. (Tyo)

 

Article Link: http://samudranesia.id/abk-indonesia-dilarung-serikat-nelayan-nu-makin-berang-dengan-china/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published