Komunitas Maritim Indonesia
Komunitas Maritim Indonesia

Program Kesejahteraan Untuk Nelayan Masih Jadi Isu Seksi

Jakarta (Samudranesia) – Peningkatan kesejahteraan masyarakat menjadi salah satu isu yang seksi di tengah perekonomian dunia yang masih melemah. Bahkan di Indonesia pun kesejahteraan menjadi pembahasan yang tidak kalah hangat di kalangan nelayan dan para pembudidaya ikan.

Begitu juga berbagai asosiasi yang menyoroti sektor kelautan dan perikanan. Misalnya Komunitas Masyarakat Maritim Indonesia (Kommari) beberapa kali melakukan pembahasan soal isu kesejahteraan. Hal ini lantaran melihat pertumbuhan ekonomi di berbagai ini sektor memang tanpak melesu dan cenderung mengalami penurunan. 

“Kesejahteraan itu bisa terjadi apabila pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan. Meski melambat akan terapi grafiknya meningkat. Kalau di Kommari dengan berbagai program yang akan kita lakukan tentunya berharap memberikan peningkatan siknifikan,” kata Ketua bidang kesejahteraan Kommari, Billy Ivanko di Jakarta, Jumat (9/8/2019).

Billy Ivanko (kanan)

Hal itu membuat Billy memiliki berbagai terobosan mulai dari memberikan skema kerjasama sewa colstorage portable, untuk nelayan, industri kecil di daerah sampai ke koperasi. Kemudian bekerjasama dengan berbagai koperasi sektor perikanan yang tidak lagi produktif juga jadi cara efektif untuk mendongkrak kesejahteraan nelayan.

“Ini agar koperasi yang tidak lagi aktif di berbagai wilayah yang semula dibuat untuk membantu kesejahteraan nelayan lewat pengolahan ikan bisa kembali hidup. Selain itu untuk memberikan skema kerjasama branding termasuk kepada start up IKM (Industri Kecil Menengah) terkait bagaimana pengemasan cara penanganan produk perikanan yang baik,” jelasnya. 

Lain Billy, lain pula Andi Sukarta. pemilik coldstorage di Muara Baru yang memiliki skema kerjasama langsung dalam berhuhungan dengan nelayan kecil. 

“Program kesejahteraan yang kami miliki ini menjadi salah satu langkah untuk memutus mata rantai tengkulak ke nelayan, caranya dengan membeli ikan dari nelayan langsung. Sementara para tengkulak juga kami ajak kerjasama untuk mengurus kapal. Langkah ini tujuannya supaya nelayan memiliki daya saing dan harga ikan di nelayan pun bisa untuk membantu kesejahteraan mereka,” terang Andi Sukarta. 

Ia mengatakan kalau tidak ada yang menjembatani seperti ini maka siapa lagi karena kalau nelayan sejauh ini tidak mampu berinovasi. Andi mengaku sebagai mitra Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), langkah nyata untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan itu jadi targetnya karena selama ini belum banyak terlihat hasilnya dari upaya yang dilakukan oleh pemerintah pusat.

“Kami melihat kehidupan nelayan itu selalu ditekan oleh berbagai pihak, termasuk jadi komoditi politik oleh oknum tertentu. Saat ini kita harus melihat realitas lapangan bahwa kesejahteraan nelayan itu penting dengan salah satunya lewat program yang kami miliki, yaitu dengan membina tengkulaknya tadi dan merangkul mereka sebagai mitra di daerah,” lanjutnya.

Andi Sukarta

Masih kata Andi, harga ikan di kawasan Timur Indonesia juga masih sangat rendah kadang tidak sepadan dengan biaya perbekalan. “Kalau beli di nelayan harga Rp10 ribu sementara tengkulak bisa menjual Rp60 ribu ke tangan ketiga, kenapa nelayan tidak langsung menjual ke tangan kedua setidaknya bisa Rp30 ribu diterima nelayan,” urai Andi.

Oleh karena itu, lewat kemitraan dengan nelayan, ia memberikan edukasi bagaimana menangani ikan yang ditangkap tetap terjaga kualitasnya. “Para ABK yang saya kenal selalu saya kasih masukan agar mereka memiliki kemampuan menjaga kualitas ikan. Sehingga meski ikan sedikit tapi harganya tinggi lebih baik dari pada ikan banyak tapi rusak, itu malah jadi merugi,” pungkasnya. (Ney)

 

Editor : Rahman

Article Link : http://samudranesia.id/program-kesejahteraan-untuk-nelayan-masih-jadi-isu-seksi/


Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published